Insan Kamil (Bpk Yusdeka)
Dalam serial artikel TIDAK TAHU saya sudah sampaikan bahwa arti hakiki dari kata INSAN (manusia) adalah "nis yan, blank, tidak tahu, lupa". Nah sekarang akan saya bahas sedikit tentang istilah INSAN KAMIL. Khalayak biasanya mengartikan "insan kamil" sebagai MANUSIA SEMPURNA, MANUSIA PARIPURNA. Sebagai aktualisasi dan contoh yang pernah ada hidup di permukaan bumi ini adalah sosok Rasulullah Muhammad Saw. Tapi sayang sosok Nabi yang agung ini hanya dilihat dan diikuti dari segi fisik dan ketubuhan beliau saja. Artinya Beliau hanya dilihat secara partial saja, padahal kita mau membicarakan kesempurnaan beliau. Lalu berduyun duyunlah "pakar" Islam dari masa ke masa menulis, menganjurkan, bahkan menjadi perintah yang hampir mendekati taraf "wajib", kepada umat Islam untuk mengikuti contoh "perilaku" Nabi sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Akan tetapi dari sekian banyak perintah itu sayangnya "sebagian besar" hanya tertuju kepada mengikuti contoh perilaku FISIK Rasulullah, sehingga begitu banyaknya kita lihat manusia dengan "atribut fisik" mirip Rasulullah.
Tampilan fisik kita bukan saja mirip dalam segi pakaian dan ciri ketubuhan lainnya, akan tetapi juga mirip dalam ritual dan gerakan-gerakan bahkan bacaan-bacaan dalam ibadah beliau. Tapi, mudah-mudahan juga banyak dari umat Islam yang sudah mendapatkan dan merasakan "hakikat (hal yang sebenarnya)" dari ibadah dan perilaku Nabi ini. Namun banyak juga dari kita baru pada taraf meniru ciri-ciri fisik dan ketubuhan itu, lalu kita sudah berani mengklaim bahwa "inilah saya...!!, sekelompok orang yang menjalankan syari'at Islam". Dalam atribut lain yang lebih "tak terlihat", beberapa pakar keislaman juga memperkenalkan masalah "ruhiyah, jiwa, nafs" yang kemudian juga dicoba disandarkan kepada praktek di masa Rasulullah dan turun-temurun kepada umat belakangan hari, misalnya: Ada yang memelihara derajat "kesambungan" (silsilah) cara atau laku beribadahnya yang diyakini mereka berasal dari dari jalur Rasulullah turun ke Ali bin Abi Thalib dan lalu diwariskan kepada mursyid-mursyid tertentu. Dari jalur Ali Bin Abi Thalib ini kemudian berkembang menjadi puluhan tarekat dengan praktek yang sedikit berbeda disana sini. Hampir 40 aliran tarikat bermuara kepada jalur Ali Bin Abi Thalib ini, misalnya Qadariyah, Rifa'iyah, Tijaniayah, dan sebagainya (termasuk dalam kategori ini adalah mahzab atau aliran Syi'ah). Ada juga yang kesambungan sisilah ritualnya yang diyakini pemrakteknya berasal dari jalur Rasulullah turun ke Abu Bakar dan kemudian kepada mursyid-mursyid dalam lingkaran tarekat tersebut. Untuk jalur Abu Bakar ini hanya ada satu tarikat yaitu Naqsabandi. Ada juga yang terpengaruh dengan praktek riyadah yang dilakukan oleh Al Ghazali yang telah menghasilkan kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal itu.
Ulama-ulama terkini, walau kalau dilihat secara sekilas hanya sebagai pengulangan-pengulangan saja, juga banyak yang mencoba menyegarkan kembali pemikiran Al Ghazali ini, misalnya Sa'id Hawa, Sayyid Qutb. Pemikiran-pemikiran mereka cukup bagus menurut saya. Tapi ada juga kelompok yang mengusung dan menjalankan pemikiran yang sangat ketat untuk meniru perilaku fisik dan ketubuhan dan ibadah-ibadah Rasulullah dalam keseharian beliau. Kelompok ini mulai "barangkali" dari Ibnu Taymiah sampai dengan pecahan-pecahan pemahaman kelompok terkini seperti Salafi, Ahlusunnah, Wahabi, Hizbut Tahrir, Tarbiyah, Jama’ah Tablikh dan sebagainya. Walaupun sekilas kelompok ini hanya meniru-niru secara fisik, ketubuhan, dan ibadah-ibadah Rasulullah, tapi saya sangat yakin bahwa Insya Allah kelompok ini juga tidak kalah dalam hal ruhiyah seperti Rasulullah.Namun sayangnya semakin berkembang kelompok-kelompok ini dengan berbagai ragam pemahaman masing-masing, ternyata TIDAK secara otomatis membuat CITRA Islam menjadi lebih bagus, baik dari sisi pandang umat Islam sendiri (terutama bagi kebanyakan umat Islam yang tidak mendapatkan informasi formal keislaman yang cukup) maupun dari sisi pandang pihak non-muslim hampir di seluruh belahan dunia.
Kondisi ini adalah sebuah paradoks yang perlu dicermati oleh umat Islam agar kita bisa meningkatkan CITRA Islam itu sendiri.Yang lebih memprihatinkan kita adalah semakin ketat kita meniru "hanya" ciri ketubuhan dan perilaku "lahiriah" Rasulullah tampaknya semakin menjauhkan umat Islam dari ciri fungsi kekhalifahan umat di muka bumi ini yaitu sebagai RAHMAT bagi alam semesta. Kita menjadi serba takut, terkungkung, terlena dengan ciri-ciri yang kita usung itu. Bahkan banyak pula kita yang dininabobokkan oleh iming-iming pahala, syurga, bidadari, naungan malaikat, dsb. Berbuat sesuatu di luar pakem tidak boleh, itu harus begini, semua serba terpola ke masa lalu dengan kompleksitas yang sangat sederhana. Sehingga sekarang dan sejak lama sekalipun, negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam dan notabene sangat kaya hanya sempat menjadi penonton di tanah airnya sendiri. Akar masalahnya dimana.....? Menurut saya sih akar masalahnya kembali ke sistem pengajaran dan pembelajaran umat. Sebenarnya sudah sejak lama, sejak matinya rasionalitas, Al Qur’an hanya diajarkan oleh AHLI SASTRA ARAB kepada umatnya. Coba perhatikan di diri kita pribadi saja. Yang dipelajari dari Al Qur’an itu adalah seninya, balagah, tata bahasa, kiraat (seni baca), khat (seni tulis), keindahan bahasa Al Qur’an, dsb. Coba lihat di pesantren, yang dikupas selalu saja kitab kuning yang kadangkala masalah-masalahnya sudah kadaluarsa. Dari kecil sampai duduk di universitas itu-itu saja yang diajarkan kepada kita walau dengan intensitas masalah yang sudah mulai meningkat. Akan tetapi kalau ditanya lebih lanjut tentang ada apa dilangit, maka kita nggak bisa menjawab. Akhirnya kita hanya berpuisi "oh langit ada apakah gerangan yang berada dipelukanmu...?".Selanjutnya Al Qur’an itu hanya dihapal, dilagukan, dan diwiridkan dari menit ke menit karena doktrinnya memang bahwa membaca Al Qur’an itu akan diberi pahala sekian banyaknya dan dinaungi oleh malaikat pula. Sebuah iming-iming yang sangat menarik. Akan tetapi alasan-alasan itu lebih kepada absurditas saja sebenarnya.
Ada juga yang mempraktekkan perilaku untuk menjaga bacaan Al Qur’an secara konsisten sehingga selama dalam perjalanan kita, misalnya diatas bis, kita asyik dengan bacaan Al Qur’annya kita demi tercapainya TARGET bacaan Al Qur’an kita itu. Coba perhatikan dalam pengajian-pengajian umum. Saat pembukaan yang dimulai dengan pembacaan Al Qur’an, semua kepala seakan menunduk dengan khusyu'. Tapi objek kekhusyu'annya sendiri entah kemana dan kepada apa. Setelah bacaan ayat itu, kita kembali cengengesan, seperti tak ada bekasnya. Pura-pura saja sebenarnya. Selanjutnya Islam diajarkan kepada umat hanya dalam bentuk hukum-hukum. Maka lahirlah ahli-ahli Islam yang sebenarnya mereka hanyalah ahli dalam hukum (fiqih). Maka kemudian ahli-ahli hukum ini mau menghukumi sesuai dengan pengetahuan mereka terhadap ilmu-ilmu yang BERKEMBANG DENGAN sangat PESAT, misalnya ilmu ekonomi, ilmu pengetahuan, ilmu budaya, ilmu politik, ilmu psikologi dan sebagainya. Dimana sebenarnya ilmu-ilmu itu adalah ilmu netral saja yang akan selalu berkembang sesuai dengan zamannya mengikuti SUNATULLAH. Akibatnya ilmu-ilmu yang malah sampai-sampai dikategorikan sebagai ilmu keduniaan itu akhirnya menjadi terseok-seok mengakomodir pengetahuan si hukum Islam dan si ahli sastra Arab yang nyaris tidak berkembang dari dulu sampai sekarang. Padahal maunya Al Qur’an itu adalah agar umat manusia mempelajari kandungan Al Qur'an itu se riil mungkin, misalnya: Saat Al Qur’an berbicara langit dan alam semesta, maka perhatikanlah langit dan alam semesta itu dengan sungguh-sungguh, mulai dari memakai mata telanjang sampai dengan memakai teleskop tercanggih. Silahkan. Sehingga ilmu tentang keangkasaan bisa kita dapatkan seperti yang diperoleh oleh orang di Amerika sana. Saat Al Qur’an mengatakan intizar (meneliti), maka benar-benarlah kita melakukan penelitian itu seperti ahli-ahli di Barat sana, tentang apa saja. Jadilah ahli kimia, fisika, dokter yang piawai menangani penyakit. Kalau tidak maka kita akan sangat tergantung kepada pihak lain.
Misalnya, untuk meneliti SARS saja masih harus minta bantuan ahli-ahli di Amerika sana (gimana bisa kita mau memboikot produk Amerika ya..??!!).Saat Al Qur’an berbicara perdagangan dan sekaligus tetap ingat kepada Allah, maka eksplorasi dan jalankanlah perdagangan itu sama seperti orang Cina berdagang. Akan tetapi Al Qur’an mengisyaratkan kita untuk mempelajari juga cara ingat kepada Allah sambil berdagang itu. Kalau orang Cina saat mereka berdagang umumnya juga percaya kepada spirit atau ruh nenek moyang mereka yang menaungi mereka. Dengan begini saja sudah sangat luar biasa hebatnya orang-orang Cina itu dalam berdagang, apalagi kalau objek fikirnya adalah Allah. Seharusnya lebih luar biasa lagi.Saat Al Qur’an berkata perang, maka siapkanlah peralatan perang seperti si Amerika itu, dimana dunia saat ini jadi serba takut dan "gacar (mencret)" mendengar nama Amerika. Padahal kalau sudah kuat, baru kita bisa membuat orang lain jadi takut pula untuk main-main dengan kekuatan Islam. Secara sunatullah, maka yang kuat akan menang. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan munculnya sunatullah lain yang berbicara, banyak contohnya, bahwa yang lemah bisa menghancurkan yang kuat. Masalahnya adalah bisakah kita mengguncang 'arasy Tuhan agar Dia menurunkan sunatullah lain seperti saat Musa mengalahkan Fir'aun dulu, sama seperti Rasulullah dan sahabat-sahabat dulu mengalahkan lawan-lawan Beliau yang berjumlah lebih besar..??. waman yattaqillaha yaj'al lahu makhraja..... Saat Al Qur’an berbicara zakat, maka berlomba-lombalah kita agar bisa menjadi kaya, sehingga zakat kita maupun infaq kita akan menjadi lebih banyak. Karena zakat ternyata sama pentingnya dengan shalat. Karena keduanya (shalat dan Zakat) ternyata hampir selalu disandingkan di dalam Al Qur’an. Betapapun rajin dan bagusnya kualitas shalat kita, akan tetapi kita tetap miskin sehingga tidak bisa bayar zakat, maka kita artinya belum ngikutin mau-Nya Allah. Saat Al Qur’an berbicara catat mencatat dalam perdagangan, maka matangkanlah ilmu akunting seperti yang dilakukan akuntan-akuntan terkenal. Boleh-boleh saja diberi simbol-simbol Islam, seperti yang ditekuni oleh Syafi'i Antonio misalnya, tapi jangan hanya sekedar ganti istilah saja.
Saat Al Qur’an berkata jangan berpecah belah, maka buang tuh semua tetek bengek yang menimbulkan perpecahan umat. Karena kalau terpecah belah seperti dunia arab dan masyarakat Islam umumnya saat ini, walaupun dengan alasan yang sepele, maka tunggu saja kita hanya akan berbentuk seperti buih. Saat Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 3 membolehkan beristri 4, atau 3, atau 2, atau 1 saja (kalau tidak bisa adil). Maka silahkan saja anda coba-coba lakukan poligami itu dengan HANYA berpedoman pada surat An Nisaa' ayat 3 ini. Akan tetapi kalau anda JUGA memakai landasan surat An Nisaa' ayat 129 dengan tegas Allah mengatakan "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, ......", maka silahkan juga anda mikir-mikir dulu untuk poligami itu. Karena bolehnya poligamia adalah untuk laki-laki yang adil, sedangkan Allah sudah mensinyalir tanpa tedeng aling-aling bahwa kita tidak akan pernah dapat berlaku adil, walaupun kita ingin sekali untuk menjadi adil. Lalu apakah poligami itu boleh atau tidak...?. Jawabnya adalah "terserah anda". Sama seperti hukum-hukum lainnya, semua hanyalah berupa kesepakatan-kesepakan manusia bersama belaka. Ini akan dibahas dalam topik lain nantinya. Saat Al Qur’an berkata ADIL, maka lihatlah adil itu dalam perspektif hukum Tuhan (fitrah, sunatullah), karena kalau dilihat dalam perspektif manusia, maka dunia ini penuh dengan ketidakadilan. Akan tetapi kalau dilihat dalam perspektif hukum Tuhan, maka keadilan adalah segala fasilitas yang disediakan Allah bagi tegaknya keamanan, keseimbangan, baik pada level nasional maupun dunia.
Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata: inna AlLâh yuqîmud daulatal ‘âdilah wain kânat kâfirah, walâ yuqîmud daulatadz dzâlimah wain kânat muslimah. Allah akan tetap mendukung negara yang adil sekalipun kafir, dan tidak mendukung negara yang zalim, sekalipun berislam. ad-dunyâ tadûm ma‘al ‘adl wal kufr, walâ tadûm ma‘adz dzulm wal Islâm. Dunia akan bertahan asal adil, meskipun berada dalam kekafiran, dan tidak akan bertahan salam kezaliman meskipun disertai Islam.Jadi hukum Tuhan mengenai keadilan itu hanya berupa hukum-hukum yang betul-betul objektif dansederhana saja sebenarnya. Sungguh banyak aktualitas Al Qur’an ini yang harus diwujudkan oleh umat Islam ini sebenarnya. Bukan hanya terpaku kepada tekstual Al Qur’an dan hadist yang lumrah dan umum dipahami selama ini. Wake up-lah semua.Hasil memahami Al Qur’an tadi apa.........? Hasilnya adalah pengetahuan yang akan membuat kita bertasbih dan bersyukur kepada ALLAH. Sehingga semua praktek Islam itu menjadi RAHMATAN LIL ALAMIN. Gabungan semua keahlian-keahlian diataslah yang diminta oleh Allah dipunyai oleh sebuah bangsa atau umat sehingga mereka bisa menjalankan fungsi kekhalifahan di dunia ini. Tapi khalifah bukan konsep khilafah menurut konsep Hizbut Tahrir, NII, dan sejenisnya lho yang saya maksudkan disini (lihat juga nanti artikel tentang kekinian daulah). Kalau semua sudah dipunyai dan diamalkan, maka baru kita bisa berkoar-koar untuk memboikot produk Amerika dan konco-konconya. Kalau belum weleh-weleh...... itu namanya cuma ngomong doang.
Jadi AHLI Al Qur'an itu adalah ahli fisika, ahli kimia, dokter, ahli akunting, ahli psikologi, ahli politik, ahli sosial, ahli budaya, ahli managemen, ahli SDM, ahli perang, dsb. Lalu ahli-ahli ini mewarnai kepiawaiannya dengan "tuntunan dan bimbingan" ALLAH. Ini sebenarnya yang terpenting. Sehingga dia dengan keahliannya itu tidak berani menganiaya orang lain, dia hanya ingin menjadi bermanfaat bagi orang lain. Jadi ahli Al Qur’an itu bukanlah hanya sekedar seorang ahli satra Arab dan ahli fikih, yang dalam istilah kita sekarang lalu disebut ULAMA. Lalu dengan titel ulama ini dia ingin membatasi dan mengatur gerak maju ahli-ahli ilmu realitas diatas dengan pengetahuan sastra arab dan fiqihnya. Sudahlah begitu dia begitu mudah menjatuhkan hukum sesuai dengan pemahaman dia yang sumbernya juga masih berupa literatur masa lalu.
Masih mending kalau literaturnya keluaran tahun-tahun terakhir. Tapi kebanyakannya walau keluaran terakhir, tetapi usungannya masih sesederhana zaman dahulu kala itu. Akan tetapi kalau perjalanan ahli-ahli ilmu pengetahuan diatas tidak bertemu atau bermuara dengan tahap bersyukur kepada Allah, maka yangmuncul ternyata juga PETAKA. Londo Amerika dan Inggris sekarang adalah contoh aktual petaka itu. Mereka biadab disatu sisi, yaitu sisi kemanusian dan penghargaan terhadap bangsa lain, walau disisi lain mereka seperti menjadi rahmat bagi bangsa lainnya juga. Disamping itu contoh lain adalah Emir-Emir Arab yang sangat kaya raya itu, sebenarnya mereka hanyalah kambing congeknya Amerika saja demi kelanggengan DAULAH mereka sendiri. Kekakayaan negara emir-emir dan raja-raja arab sana ternyata tidak serta membuat mereka menjadi menjadi bangsa fenomenal yang mengguncang dunia. Sebaliknya kalau hanya berdoa, bersyukur, wiridan (zikir...?), berpuisi menghiba terus, tanpa menemukan kebahagia, kekayaan dan kekuatan apa-apa seperti jamaknya umat Islam saat ini, maka yang muncul juga hanyalah KEDUNGUAN belaka. Huh saya malas memberi contoh untuk yang satu ini, karena begitu menyedihkan. Hal-hal dan problematika diatas baru dilihat dari segi yang paling fundamental dalam keislaman, yaitu dalam memahami Alqur'an. Kalau diteruskan untuk melihat pemahaman HADIST pada umat Islam, maka akan lebih menyedihkan lagi. Intinya adalah bahwa semakin banyak kita tahu tentang hadist maka semakin mudahlah kita menjadi terpecah belah. Dan semakin sulit pula kita untuk memahami mana yang paling benar diantara semua pemahaman hadist walau textnya sama sekalipun. Karena pada aktualnya sangat sedikit orang yang sesuai dengan bunyi hadist-hadist tersebut, misalnya hadis tentang bid'ah, keistimewaan ahlul bait, iming-iming pahala dan syorga, bahkan kedamaian sekalipun. Kalau bagi saya sih hadist-hadist yang menyulut pertentang itu sudah saya tutup dengan spidol merah untuk kemudian hanya menjadi kenangan sejarah saya saja, atau paling tidak untuk jadi bahan bacaan sejarah saja . Begitu juga dalam pengajaran melalui kitab-kitab tua, misalnya riyadus shalihin, buku-buku tasawuf yang banyak beredar dipasaran, Risalah Qusayriyah, dsb. Semua buku-buku itu memuat begitu banyak hadist dan bahasan ulama-ulama terdahulu yang indah-indah. Dari pengajian ke pengajian, dari peringatan ini keperingatan itu, materi yang diberikan nyaris sama dengan materi ratusan tahun yang lalu. Itu- itu saja yang diulang-ulang. Tapi disitulah......sedihnya, sifatnya hanya teori saja, semua hanya wacana saja. Prakteknya sungguh tertatih-tatih. Karena sekedar wacana memang sangat jauh beda dengan sebuah praktek. Akan tetapi pengetahuan tentang hadist itu lewat bacaan itu tidak mampu membuat orang lalu menjadi sabar, takwa, khusyu, beriman yang sesungguhnya. Oleh sebab itu sebagai jalan keluarnya saya mohon pertolongan saja kepada Allah untuk diajarkan-Nya menjadi orang yang sabar, takwa, rendah hati, khusyu', dan berbagai kondisi kerohanian yang di beritahu oleh Al Qur’an. Begitu Allah mengajarkan HAL diatas kepada kita, karena DIA memang RABBI (PENGAJAR) 'ALAMIN (alam semesta), maka insyaallah kita akan senyum-senyum saja mengiyakan bahan bacaan atau pengajian mengenai sabar itu, takwa itu, tawakal itu, khusyu' itu. Karena ternyata aktualitas itu memang indah sekali. Jadi menurut analisa saya, selama ini umat Islam belum belajar tentang Al Qur’an dan keislaman yang sesungguhnya. Kita baru belajar dan diajar tentang seni SASTRA arab, dan hukum-hukum (Fikih) yang berbau Islam. Cilakanya ini malah sudah berlangsung dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Dan pelajaran-pelajaran itu sayangnya malah menjauhkan kita dari pengertian INSAN KAMIL yang sesungguhnya. Insan Kamil itu apa....? Menurut pengertian bahasa, insan kamil adalah lupa sempurna, tidak tahu sempurna, blank sempurna.
Untuk pengertian insan "nis yan" (tidak tahu, lupa) dulu sudah saya bawakan kepada pengertian yang akan membawa kita kekesadaran penelusuran sejarah keberadaan manusia, bahwa pada hakikatnya manusia itu adalah tidak tahu apa-apa, tidak pintar apa-apa, tidak bergerak apa-apa. Hal ini dalam artikel "tidak tahu" sudah dikupas tuntas. Tetapi dalam istilah "insan kamil" Allah mensyaratkan sesuatu yang lebih dari hanya sekedar insan yang lupa, blank, tidak tahu. Allah mensyaratkan agar manusia kembali kepada kesejatian dirinya seperti saat penciptaan permulaan, setelah itu baru dia KEMBALI (menghadap) kepada-Nya. Dalam Al A'raf 29: Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya)". Rasulullah sendiri dalam atribut insan kamil ini disebut sebagai seorang "ummi". Sayangnya kita selama ini diajarkan bahwa arti "ummi" ini adalah Rasul yang tidak tahu tulis dan baca. Itu saja. Padahal pengertiannya lebih dari itu. Ummi itu, Insan Kamil itu adalah suatu keadaan atau suasana dimana semua pengakuan Nabi telah luruh ketitik NOL. Luruh semua ilmu Beliau, luruh semua keangkuhan Beliau, luruh semua atribut Beliau menjadi "yang blank sempurna, yang tidak tahu sempurna". Ya…, seperti kita baru lahir itulah. Seperti Bayi. Kalau sudah begitu, maka YANG ADA hanyalah Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tahu, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Bergerak. Dan Dialah Yang membimbing Rasulullah setiap saat. Sehingga Al Qur’an menyatakan:Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (an Najm 4)Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. , (Al Haaqqah 44-47)Kemudian untuk mencapai titik Insam Kamil ini, Allah berfirman dalam Thahaa 12 "Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa". Tafsiran ayat mengenai "kedua terompahmu ini" sungguh beragam, karena ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Ada yang mengartikan "kedua terompah" itu dengan menyiksan badan (tubuh) dan jiwa. Silahkan saja tafsirkan menurut kemampuan kita masing-masing.
Akan tetapi menurut saya pribadi, pengertian kedua terompah diatas adalah segala atribut yang mengganduli dan mengganggu proses kembalinya kita ke kondisi awal penciptaan, kondisi tidak tahu, kondisi tidak meng-aku, kondisi blank, kondisi bayi, dalam MENGHADAP (kembali) kepada Tuhan. Artinya, posisi insan kamil disini adalah memenuhi tanda-tanda sebagai berikut: Si lupa sempurna menghadap kepada Yang Ingat Sempurna, Si tidak tahu sempurna menghadap kepada Yang TAHU Sempurna, Si mati sempurna menghadap kepada Yang Hidup Sempurna, Si bodoh sempurna menghadap kepada Yang Cerdas Sempurna, Si blank sempurna menghadap kepada Yang MAHA Sempurna................ Karena sudah tidak ada pengakuan diri yang tersisa, tidak ada pengklaiman ini aku…, ini aku…, maka denga PASTI Sang Insan Kamil akan DIALIRI oleh Rasa Tahu yang HAKIKI, Rasa Ingat HAKIKI, Rasa Hidup HAKIKI, Rasa Cerdas yang HAKIKI, dan rasa-rasa HAKIKI lainnya oleh Yang Maha Sempurna itu. Dia akan menjadi orang yang tidak tahu, tapi tahu, Dia akan mejadi orang yang ummi, tapi cerdas, Sehingga kalau sudah begitu maka kita akan punya "kesadaran" ikut apa mau-Nya Allah tanpa reserve: Hadist Qudsi mengusyaratkan posisi ini sebagai (terjemahan bebas): "......Kalau dia berbicara maka dia berbicara dengan lidah Allah, kalau dia berjalan maka dia berjalan dengan kaki Allah...." Dan Al Qur’an mengisyaratkan pula: "... bukan engkau yang membunuh saat engkau membunuh, tapi Allahlah yang membunuh. Bukan engkau yang melempar SAAT engkau melempar, tapi Allahlah yang melempar...".Akan tetapi, tatkala si INSAN (si kopong) mencoba "mengaku" sedikit saja, maka:Saat si kosong mengaku pintar, maka dia akan terhijab, akibatnya dia hanya dilewati aliran pintar sebesar yang dia tahu, sehingga dia akan tersiksa kalau ada orang lain yang mengaku lebih pintar dari dia. Saat si kopong mengaku paling benar sendiri, maka dia akan terhijab, akibatnya dia hanya dilewati aliran benar sebesar yang dia benar itu, sehingga dia akan tersiksa kalau ada orang lain yang mengaku lebih benar dari dia.Saat si bodoh mengaku tahu, maka dia akan terhijab, akibatnya dia hanya dilewati aliran tahu sebesar yang dia tahu, sehingga dia akan tersiksa kalau ada orang lain yang mengaku lebih tahu dari dia. Yang sangat dahsyat siksanya adalah saat si "tiada" mengaku "ada" (eksis), maka dia akan terhijab, lalu dia INGIN bersatu (melebur, wihdatul wujud) dengan YANG ADA. Artinya ada dua entity yang melebur menjadi satu. Bahkan ada yang sampai mengaku bahwa YANG ADA itu beremanasi kepada yang "tiada", duh tersiksanya.......... !!!. Padahal wayang ngak mungkin bersatu dengan sang dalang.
Hancur tuh wayang kalau coba-coba untuk itu, seperti hancurnya bukit thursina dan pingsannya nabi Musa saat Musa hanya sekedar mau "melihat" Yang Ada itu dengan mata dan persepsinya sendiri. But believe me, bahwa disini juga adalah daerah enak dan nikmat yang luar biasa......!!!. Yang membuat "seorang pejalan" tersangkut dan terbelenggu, sulit untuk melepaskan diri. Oleh karena si insan-insan ini saling mengaku, berusaha "memblok, menahan, mengecilkan" TAHU Yang Maha Sempurna hanya sebesar dan sepersepsi si manusia itu sendiri, maka insan-insan ini lalu menjadi saling merusak dan saling tersiksa karena pengakuan-pengakuan mereka itu. Peng-aku-an inilah sumber kekacauan dan konflik dunia maupun pribadi-pribadi selama ini. Insan Kamil, memang sebuah realitas (haqqul yakin) idaman.......Caranya mendapatkannya.......???? Ya praktek......!. Just do it....!. Jangan hanya berteori dan berwacana terus, atau jangan juga merasa bingung terus......!.Realitas insan kamil inilah sebenarnya yang selalu kita dengung-dengungkan dalam setiap shalat: Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardhi hanifammusliman wama ana minal musyrikin Inna shalati wanusiki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin. Pertama hadapkan dulu fokus dan objek fikir kita kepada "wajah-Nya". Luruskan fokus dan objek fikir itu hanya kepada wajah-Nya, tidak melenceng (tidak syirik) sedikitpun. Lalu ikrar bahwa shalatku ini, ibadahku ini, hidupku ini, matiku ini untuk ALLAH. Berserah TOTAL kepada Allah, hilangnya semua peng-aku-an kita. Lalu plakkkk......., berserahlah mengikuti "mau-Nya" ALLAH....!! Maka shalat kita akan menjadi sarana istirahat, sarana menyembah dan dialog dengan-Nya, sarana "kembali" (mi'raj) kepada-Nya, innalillahi wa inna ilaihi raji'uun, belajar mati. Andaikan saat itu "nyawa" dicabutpun ya relakan saja.......!!!
Subhanallah....!DEKA
diambil dari dzikrullah.blogspot.com
Kumpulan artikel islam
Senin, 18 Mei 2009
Monday, January 23, 2006
FASILITAS VIP TANPA HISAB (Oleh : Yusdeka)
Judul di atas kedengarannya cukup bombastis juga untuk ukuran kita saat ini. Karena selama ini pengetahuan yang sampai kepada kita adalah tentang sebuah fasilitas konvensional dalam "perjalanan" keberadaan manusia yang penuh dengan alur penderitaan menuju akhir yang bahagia (syurga). Fasilitas konvensional "kembalinya" perjalanan manusia ini dapat diurai secara ringkas sebagai berikut: A.Proses Konvensional Kembali Yang SALAH: Sebelum "matinya", manusia sudah mengalami berbagai SIKSA mulai dari sakit ringan sampai dengan sakit berat yang mematikan. Akhirnya si manusia MATI. Artinya siksa fisik sudah tidak dirasakan lagi oleh "diri kita". Misalnya jika saat sudah mati itu kaki kita dicopot, atau tubuh saya dimakan ulat, maka saat itu saya tidak merasakannya lagi.Alam "kubur", alam kubur juga merupakan tempat "siksaan", banyak hadist-hadist yang menceritakan betapa dahsyatnya siksa kubur ini. Silahkan dilihat Alam Mahsyar, disini pun ternyata siksa juga, dst Neraka, tempat ini juga merupakan alam siksaan yang maha dahsyat. Nah siksa-siksa ini adalah untuk orang-orang yang tidak mengetahui posisi tempat kembalinya ke tempat yang seharusnya.. Dan banyak sekali ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa SIKSA itu KEKAL. "Hum fiha khaaliduun". Tapi hadist dan cerita-cerita pengajian mengatakan bahwa siksa itu akan berakhir jika kita berhasil melewati "jembatan yang lurus, tipis sekali", setelah itu kita akan masuk syorga yang ada diseberangnya.
Padahal Al Qur'an menyatakan itu KEKAL...... Ah bagaimana ini...?. Apa penyebab dari proses kembali yang salah ini, silahkan lihat kembali di Al Qur'an dan hadist. B.Proses Konvensional Kembali yang Benar. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 82, dan banyak lagi yang lain).Proses ini walaupun benar tapi masih dianggap konvensional, karena proses ini masih melalui tahapan "alam-alam" yang sarat dengan siksa, akan tetapi untungnya mereka sudah tidak merasakannya sebagai siksa lagi. Misalnya huru-hara duniawi, alam kubur, alam mahsyar. Akan tetapi mereka dalam perlindungan Tuhan, TIDAK MERASAKAN siksa itu. Muaranya adalah SYURGA, sebuah tempat kembali yang KEKAL juga. FASILITAS KEMBALI VIP Akan tetapi dalam Al Qur'an ada disediakan Allah fasilitas VIP "jalan kembali". Tetapi kembali itu menuju TEMPAT kembali yang sebenarnya, yaitu DI SISI TUHAN. Fasilitas VIP itu adalah (paling tidak) : 1.Gugur dijalan Allah Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Ali Imran 169-170)Ditambah lagi Ayat 154 Al Baqarah: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Ada yang mau membedah ayat-ayat ini ...?. Silahkan.
Masalahnya adalah bagaimana gugur dijalan Allah itu bisa dibedakan dengan mati konyol, atau mati karena sudah bosan dengan problematika hidup lalu pura-pura ikut berperang supaya bisa mati. 2.Orang yang “kembali kepada Allah” saat ditimpa MUSIBAH (Al Baqarah 156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" 3.Orang yang “kembali kepada Allah” saat SHALAT. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka (saat shalat itu) menemui Tuhannya, dan bahwa mereka (saat shalat itu) kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 45-46)Nah pantas saja wali-wali Allah dulu sering berkata yang membingungkan kita bahwa mereka tidak ingin syurga dan sekaligus juga tidak kuat masuk neraka. Yang mereka inginkan adalah "Kembali Kepada Allah". Karena "Aku adalah dari Allah, milik Allah dan akan kembali kepada Allah". Kalau tidak kembali kepada Allah maka itu namanya golongan tuli, bisu, dan buta seperti kata Al Baqarah 18 : “Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (laa yarji'un)”.Lalu bagaimana aktualisasi fasilitas "kembali kepada Allah" itu dalam keseharian kita...? Baik dalam menghadapi "musibah", maupun saat melaksanakan shalat..????. Perangkat deteksi dini apa yang kita punyai untuk mendeteksi apakah kita itu berada pada jalur konvensional yang salah, atau jalur konvensional yang benar, atau malah sudah mulai tertatih-tatih di jalur VIP ini ???.
Mari kita bahas secara kilat ke tiga fasilitas VIP ini. 1.Fasilitas Syuhada. Fasilitas VIP tanpa hisab melalui proses "gugur di jalan Allah" mungkin tidak dibahas dulu disini, karena fasilitas ini adalah sebuah fasilitas yang sangat tergantung kepada niat (motivasi) kita dalam berjuang di jalan Allah itu. Insya Allah kalau gugurnya hanya dalam memperjuangkan "simbol keberadaan kelompok", bukan dalam memperjuangkan "TAUHID", maka saya sih menganggap mereka masih gugur sia-sia saja, atau gugur karena putus asa. Gugur dalam hal begini sih masih emosional sifatnya, belum spiritual-spiritual acan. Orang yang selalu memupuk emosionalnya dari waktu, detik, masa, maka suatu saat akan meledakkan emosi tersebut menjadi tindakan "nekat" demi sang pemicu emosinya itu. Walaupun kadangkala dalam emosinya itu sipelaku menyebut "Allahu Akbar", tapi karena posisi atau "arahnya" hanya menurutkan emosi dan "hasutan" tingkat tinggi saja, maka fasilitas VIP ini sih kayaknya masih jauh panggang dari api. Akan tetapi jika posisi jalan Allah yang dibela itu betul arahnya, niatnya lurus (hanief), maka fasilitas VIP tanpa hisab itu insya Allah akan dilalui oleh sang syuhada (sang penyaksi). Sang syuhada akan KEMBALI KE SISI ALLAH........, tanpa hisab. Insya Allah Palestine, Ambon, Poso, Afganistan, Uhud, Khandak, dan perang-perang lain untuk menegakkan ketauhidan telah melahirkan banyak sekali para syuhada ini. Sedangkan Perang Onta dan sejenisnya telah melahirkan pula sejarah gelap Islam. Dua belah pihak (syiah dan ahlussunnah) telah berjasa menorehkan sejarah hitam ini. Sayangnya sejarah gelap ini dipelihara terus oleh pengusungnya yang malah digemborkan akan sepanjang masa. Pintar sekali memang iblis itu. Si iblis itu masuk lewat kata-kata ulama, lewat orang yang bahkan rajin menyebut nama Allah (tapi arah ihsannya menerawang). Salahnya sih melawan iblis dengan ucapan "audzubillahi minasysyaitan nirrajim". Kalau mau lepas dari gangguan iblis, maka masuklah kedalam "benteng" perlindungan Allah seperti masuknya kita ke dalam benteng "For de Cock" di Bukittinggi sana. Bukan hanya menyebut "aku berlindung....". Masuk benteng manusia saja kita sudah merasa aman dari gangguan manusia lainnya. Apalagi masuk benteng Allah, huh..... subhanallah.......!!. 2.Fasilitas lewat "Musibah" Fasilitas kedua ini sebenarnya masih lebih real dari fasilitas syuhada di atas. Karena musibah merupakan peristiwa yang akrab dengan keberadaan manusia. Manusia seperti tidak dapat bersembunyi dari jangkauan jari-jari musibah ini. Allah menurunkan musibah itu kepada siapa yang dikehendaki Nya. Bisa musibah dalam bentuk kesenangan, atau bisa juga dalam bentuk penderitaan. Kunci yang coba diungkapkan Al Qur'an adalah bahwa saat mendapatkan musibah itu apa yang kita perbuat. Ayatnya mengatakan "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Pertanyaannya adalah apakah prosesi ini hanya sekedar ucapan lisan atau lebih dari itu. Melihat ayatnya yang memuat pengakuan bahwa "saya adalah milik Allah dan kepada-Nya saya kembali", maka bentuk musibah ini juga adalah fasilitas VIP yang akan membawa kita "kembali" ke sisi Allah. Pada artikel yang lain telah saya bahas juga bagaimana orang yang mewakilkan dirinya kepada Allah akan dibuatkan jalan keluar dari masalah-masalahnya. Kenapa...? Ya...., karena mereka saat mendapatkan persoalan itu mereka kembali kepada Allah, mi'raj. Nah kalau tidak kembali kesisi Allah (laa yarji'uun) saat mendapatkan musibah apa yang bakal kita dapatkan...? Masalah ini akan dibahas dalam artikel berikutnya (Deteksi Dini Syurga & Neraka). 3.Fasilitas SHALATFasilitas VIP melalui shalat ini adalah sesuatu yang sangat-sangat dekat dengan keseharian kita. Betapa kita setiap saat membaca: "Inna shalati wanusuki wamah yaya wamamati lillahirabbil 'alamin", sebuah kondisi patuh TOTAL kepada ALLAH dan hanya TERTUJU untuk ALLAH dalam setiap saat dan kondisi. Posisi seorang BAYI saja sebenarnya. Posisi tumbuh-tumbuhan dan posisi alam semesta terhadap ALLAH sang Khalik. Tapi sayang kita hanya terlalu sering mengucapkannya saja. Tapi kenyataannya fikiran dan perasaan kita masih ngelibet berputar-putar.
Padahal dalam shalat itu ada realitas bertemu dengan Allah dan saat itu juga kita kembali kepada-Nya (ilahi rajiun). Kembali kesisi ALLAH. Artinya apa...? Sebuah realitas praktek atau latihan "KEMATIAN.........." saja sebenarnya. Bukan hanya sekedar ingat dan mengingat-ingat akan kematian, tidak sebatas ANGAN-ANGAN saja. Dalam shalat inilah sebuah ungkapan "Kalau bisa diperlama kenapa harus dipercepat" ternyata bisa dipakai dengan hasil yang maksimal. Shalat Magrib 45-50 menit kemudian disambung dengan Isya ternyata memang asyiiiik dan nggak ada kebosanan atau fikiran liar yang mengganggu. Ternyata shalat adalah untuk melatih posisi kembali kepada ALLAH, posisi melatih KEMATIAN, sehingga saat menerima musibah kita bisa dengan cepat kembali kepada-Nya. Shalat juga akan melatih kita untuk tidak gamang dalam berjuang dijalan Allah, walaupun tantangannya mati. Shalat menyiapkan pribadi-pribadi yang siap kembali kepada Allah dan siap untuk tidak kembali lagi ke dirinya sendiri (MATI). Duhai... Allah kapan hamba mau dipanggil kesisi-Mu.....?. Hamba siap Ya Allah........ Pantas shalat digambarkan sebagai tiangnya agama....!! Tapi untuk melatih proses kembali ini harus jelas posisi kemana ARAH atau TUJUAN kita kembalinya itu......! Sudahkan anda tahu posisi atau tempat kembali itu...? Kembalilah kepada Sang Ahad, kembalilah kepada Sang "Nyata (dzhahiru)" dan Sang "Gaib (bathinu)" Siapkah Anda....?
diambil dari dzikrullah.blogspot.com
FASILITAS VIP TANPA HISAB (Oleh : Yusdeka)
Judul di atas kedengarannya cukup bombastis juga untuk ukuran kita saat ini. Karena selama ini pengetahuan yang sampai kepada kita adalah tentang sebuah fasilitas konvensional dalam "perjalanan" keberadaan manusia yang penuh dengan alur penderitaan menuju akhir yang bahagia (syurga). Fasilitas konvensional "kembalinya" perjalanan manusia ini dapat diurai secara ringkas sebagai berikut: A.Proses Konvensional Kembali Yang SALAH: Sebelum "matinya", manusia sudah mengalami berbagai SIKSA mulai dari sakit ringan sampai dengan sakit berat yang mematikan. Akhirnya si manusia MATI. Artinya siksa fisik sudah tidak dirasakan lagi oleh "diri kita". Misalnya jika saat sudah mati itu kaki kita dicopot, atau tubuh saya dimakan ulat, maka saat itu saya tidak merasakannya lagi.Alam "kubur", alam kubur juga merupakan tempat "siksaan", banyak hadist-hadist yang menceritakan betapa dahsyatnya siksa kubur ini. Silahkan dilihat Alam Mahsyar, disini pun ternyata siksa juga, dst Neraka, tempat ini juga merupakan alam siksaan yang maha dahsyat. Nah siksa-siksa ini adalah untuk orang-orang yang tidak mengetahui posisi tempat kembalinya ke tempat yang seharusnya.. Dan banyak sekali ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa SIKSA itu KEKAL. "Hum fiha khaaliduun". Tapi hadist dan cerita-cerita pengajian mengatakan bahwa siksa itu akan berakhir jika kita berhasil melewati "jembatan yang lurus, tipis sekali", setelah itu kita akan masuk syorga yang ada diseberangnya.
Padahal Al Qur'an menyatakan itu KEKAL...... Ah bagaimana ini...?. Apa penyebab dari proses kembali yang salah ini, silahkan lihat kembali di Al Qur'an dan hadist. B.Proses Konvensional Kembali yang Benar. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 82, dan banyak lagi yang lain).Proses ini walaupun benar tapi masih dianggap konvensional, karena proses ini masih melalui tahapan "alam-alam" yang sarat dengan siksa, akan tetapi untungnya mereka sudah tidak merasakannya sebagai siksa lagi. Misalnya huru-hara duniawi, alam kubur, alam mahsyar. Akan tetapi mereka dalam perlindungan Tuhan, TIDAK MERASAKAN siksa itu. Muaranya adalah SYURGA, sebuah tempat kembali yang KEKAL juga. FASILITAS KEMBALI VIP Akan tetapi dalam Al Qur'an ada disediakan Allah fasilitas VIP "jalan kembali". Tetapi kembali itu menuju TEMPAT kembali yang sebenarnya, yaitu DI SISI TUHAN. Fasilitas VIP itu adalah (paling tidak) : 1.Gugur dijalan Allah Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Ali Imran 169-170)Ditambah lagi Ayat 154 Al Baqarah: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Ada yang mau membedah ayat-ayat ini ...?. Silahkan.
Masalahnya adalah bagaimana gugur dijalan Allah itu bisa dibedakan dengan mati konyol, atau mati karena sudah bosan dengan problematika hidup lalu pura-pura ikut berperang supaya bisa mati. 2.Orang yang “kembali kepada Allah” saat ditimpa MUSIBAH (Al Baqarah 156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" 3.Orang yang “kembali kepada Allah” saat SHALAT. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka (saat shalat itu) menemui Tuhannya, dan bahwa mereka (saat shalat itu) kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 45-46)Nah pantas saja wali-wali Allah dulu sering berkata yang membingungkan kita bahwa mereka tidak ingin syurga dan sekaligus juga tidak kuat masuk neraka. Yang mereka inginkan adalah "Kembali Kepada Allah". Karena "Aku adalah dari Allah, milik Allah dan akan kembali kepada Allah". Kalau tidak kembali kepada Allah maka itu namanya golongan tuli, bisu, dan buta seperti kata Al Baqarah 18 : “Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (laa yarji'un)”.Lalu bagaimana aktualisasi fasilitas "kembali kepada Allah" itu dalam keseharian kita...? Baik dalam menghadapi "musibah", maupun saat melaksanakan shalat..????. Perangkat deteksi dini apa yang kita punyai untuk mendeteksi apakah kita itu berada pada jalur konvensional yang salah, atau jalur konvensional yang benar, atau malah sudah mulai tertatih-tatih di jalur VIP ini ???.
Mari kita bahas secara kilat ke tiga fasilitas VIP ini. 1.Fasilitas Syuhada. Fasilitas VIP tanpa hisab melalui proses "gugur di jalan Allah" mungkin tidak dibahas dulu disini, karena fasilitas ini adalah sebuah fasilitas yang sangat tergantung kepada niat (motivasi) kita dalam berjuang di jalan Allah itu. Insya Allah kalau gugurnya hanya dalam memperjuangkan "simbol keberadaan kelompok", bukan dalam memperjuangkan "TAUHID", maka saya sih menganggap mereka masih gugur sia-sia saja, atau gugur karena putus asa. Gugur dalam hal begini sih masih emosional sifatnya, belum spiritual-spiritual acan. Orang yang selalu memupuk emosionalnya dari waktu, detik, masa, maka suatu saat akan meledakkan emosi tersebut menjadi tindakan "nekat" demi sang pemicu emosinya itu. Walaupun kadangkala dalam emosinya itu sipelaku menyebut "Allahu Akbar", tapi karena posisi atau "arahnya" hanya menurutkan emosi dan "hasutan" tingkat tinggi saja, maka fasilitas VIP ini sih kayaknya masih jauh panggang dari api. Akan tetapi jika posisi jalan Allah yang dibela itu betul arahnya, niatnya lurus (hanief), maka fasilitas VIP tanpa hisab itu insya Allah akan dilalui oleh sang syuhada (sang penyaksi). Sang syuhada akan KEMBALI KE SISI ALLAH........, tanpa hisab. Insya Allah Palestine, Ambon, Poso, Afganistan, Uhud, Khandak, dan perang-perang lain untuk menegakkan ketauhidan telah melahirkan banyak sekali para syuhada ini. Sedangkan Perang Onta dan sejenisnya telah melahirkan pula sejarah gelap Islam. Dua belah pihak (syiah dan ahlussunnah) telah berjasa menorehkan sejarah hitam ini. Sayangnya sejarah gelap ini dipelihara terus oleh pengusungnya yang malah digemborkan akan sepanjang masa. Pintar sekali memang iblis itu. Si iblis itu masuk lewat kata-kata ulama, lewat orang yang bahkan rajin menyebut nama Allah (tapi arah ihsannya menerawang). Salahnya sih melawan iblis dengan ucapan "audzubillahi minasysyaitan nirrajim". Kalau mau lepas dari gangguan iblis, maka masuklah kedalam "benteng" perlindungan Allah seperti masuknya kita ke dalam benteng "For de Cock" di Bukittinggi sana. Bukan hanya menyebut "aku berlindung....". Masuk benteng manusia saja kita sudah merasa aman dari gangguan manusia lainnya. Apalagi masuk benteng Allah, huh..... subhanallah.......!!. 2.Fasilitas lewat "Musibah" Fasilitas kedua ini sebenarnya masih lebih real dari fasilitas syuhada di atas. Karena musibah merupakan peristiwa yang akrab dengan keberadaan manusia. Manusia seperti tidak dapat bersembunyi dari jangkauan jari-jari musibah ini. Allah menurunkan musibah itu kepada siapa yang dikehendaki Nya. Bisa musibah dalam bentuk kesenangan, atau bisa juga dalam bentuk penderitaan. Kunci yang coba diungkapkan Al Qur'an adalah bahwa saat mendapatkan musibah itu apa yang kita perbuat. Ayatnya mengatakan "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Pertanyaannya adalah apakah prosesi ini hanya sekedar ucapan lisan atau lebih dari itu. Melihat ayatnya yang memuat pengakuan bahwa "saya adalah milik Allah dan kepada-Nya saya kembali", maka bentuk musibah ini juga adalah fasilitas VIP yang akan membawa kita "kembali" ke sisi Allah. Pada artikel yang lain telah saya bahas juga bagaimana orang yang mewakilkan dirinya kepada Allah akan dibuatkan jalan keluar dari masalah-masalahnya. Kenapa...? Ya...., karena mereka saat mendapatkan persoalan itu mereka kembali kepada Allah, mi'raj. Nah kalau tidak kembali kesisi Allah (laa yarji'uun) saat mendapatkan musibah apa yang bakal kita dapatkan...? Masalah ini akan dibahas dalam artikel berikutnya (Deteksi Dini Syurga & Neraka). 3.Fasilitas SHALATFasilitas VIP melalui shalat ini adalah sesuatu yang sangat-sangat dekat dengan keseharian kita. Betapa kita setiap saat membaca: "Inna shalati wanusuki wamah yaya wamamati lillahirabbil 'alamin", sebuah kondisi patuh TOTAL kepada ALLAH dan hanya TERTUJU untuk ALLAH dalam setiap saat dan kondisi. Posisi seorang BAYI saja sebenarnya. Posisi tumbuh-tumbuhan dan posisi alam semesta terhadap ALLAH sang Khalik. Tapi sayang kita hanya terlalu sering mengucapkannya saja. Tapi kenyataannya fikiran dan perasaan kita masih ngelibet berputar-putar.
Padahal dalam shalat itu ada realitas bertemu dengan Allah dan saat itu juga kita kembali kepada-Nya (ilahi rajiun). Kembali kesisi ALLAH. Artinya apa...? Sebuah realitas praktek atau latihan "KEMATIAN.........." saja sebenarnya. Bukan hanya sekedar ingat dan mengingat-ingat akan kematian, tidak sebatas ANGAN-ANGAN saja. Dalam shalat inilah sebuah ungkapan "Kalau bisa diperlama kenapa harus dipercepat" ternyata bisa dipakai dengan hasil yang maksimal. Shalat Magrib 45-50 menit kemudian disambung dengan Isya ternyata memang asyiiiik dan nggak ada kebosanan atau fikiran liar yang mengganggu. Ternyata shalat adalah untuk melatih posisi kembali kepada ALLAH, posisi melatih KEMATIAN, sehingga saat menerima musibah kita bisa dengan cepat kembali kepada-Nya. Shalat juga akan melatih kita untuk tidak gamang dalam berjuang dijalan Allah, walaupun tantangannya mati. Shalat menyiapkan pribadi-pribadi yang siap kembali kepada Allah dan siap untuk tidak kembali lagi ke dirinya sendiri (MATI). Duhai... Allah kapan hamba mau dipanggil kesisi-Mu.....?. Hamba siap Ya Allah........ Pantas shalat digambarkan sebagai tiangnya agama....!! Tapi untuk melatih proses kembali ini harus jelas posisi kemana ARAH atau TUJUAN kita kembalinya itu......! Sudahkan anda tahu posisi atau tempat kembali itu...? Kembalilah kepada Sang Ahad, kembalilah kepada Sang "Nyata (dzhahiru)" dan Sang "Gaib (bathinu)" Siapkah Anda....?
diambil dari dzikrullah.blogspot.com
Salah Kaprah antara Sura dan Muharram
Artikel Oleh : Redaksi 01 Feb, 07 - 4:02 am Oleh: Tiar Anwar Bachtiar
20 Januari 2007 atau bertepatan dengan tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1428 banyak orang mengadakan peringatan. Sayangnya, banyak yang salah kaprahHari sabtu tanggal 20 Januari 2007 kemarin ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional menyambut tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1428. Hari itu juga bertepatan dengan tanggal 1 Suro 1940 Çaka (baca: Syaka). Di berbagai tempat banyak peringatan-peringatan dilakukan. Sebagian ada yang melakukan peringatan di mesjid-mesjid dengan mengadakan muhasabah dan pengajian, sementara di tempat-tempat tertentu seperti di Keraton Jogja, Surakarta, Banyuwangi, dan beberapa tempat lain di pesisir pantai utara diselenggarakan ritual-ritual yang selalu diselenggarakan sstiap tanggal 1 Suro.Masalahnya, banyak sekali media, terutama pemberitaan televisi yang menyamakan saja peringatan 1 Muharram yang berasal dari kalender Hijriyah dengan peringatan 1 Suro yang mengikuti perhitungan kalender tahun Çaka. Misalnya, kirab di Keraton Jogja dan Solo serta ritual Jamasan (mencuci benda-benda pusaka) dianggap sebagai rangkaian upacara dalam memperingati Tahun Baru Islam, Hijriyah. Padahal, upacara-upacara adat itu, secara asal-usul budaya, sama sekali bukan dalam memperingati tahun baru Islam, melainkan memperingatai tahunn baru Çaka yang memang selalu jatuh hampir bersamaan dengan kalender Hijriyah.Kesalahan persepsi itu berakibat cukup fatal. Aroma sinkretisme sengaja dibangun kembali seolah-olah Islam membolehkan praktik-praktik upacara semacam itu. Media membentuk opini bahwa upacara-upacara itu merupakan bagian dari tradisi Islam, padahal sama sekali berbeda. Dalam Islam jangankan melakukan upacara-upacara seperti Jamasan, mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau yang dilarung ke laut, atau kirab dengan rangkaian upacara tertentu, benar-banr memperingati tahun baru Hijriah dengan cara muhasabah dan menyelenggarakan pengajian-pengajian pun masih diperselisihkan.Sebagian ada yang membolehkan, tentu dengan catatan bahwa pelaksanaannya hanyalah sebagai aktivitas biasa seperti pengajian-penagjian biasa pada umumnya; hanya waktunya saja memilih tanggal 1 Muharram. Namun, sebagian ulama lain tegas-tegas menolak karena Rasulullah atau para sahabat tidak pernah mencontohkan. Bahkan, nama Hijriyah sendiri tidak pernah dikenal pada zaman Rasulullah karena baru diuat pada zaman Khlaifah Umar ibn Khaththab, apalagi diperingati. Jelas kalau ini dianggap ritual akan termasuk ke dalam kategori bid'ah; dan bila dibiasakan akan ada sangkaan dari masyarakat awam bahwa ini merupakan bagian dari ritual ibadah yang harus di laksanakan. Kalau itu terjadi, telah terjadi penyesatan pada umat. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadi hal semacam itu, lebih baik tidak dilakukan kegiatan apapun untuk menyambutnya. Ini diasaskan pada kaidah sadd al-dzara'ah (tindakan preventif).Untuk melihat bahwa antara Sura dan segala tradisinya dengan Muharram adalah sesuatu yang berbeda, kita mesti melihat sejarah penanggalan keduanya. Kalau ini tidak didudukkan, maka selalu akan terjadi penyamarataan yang akhirnya merugikan citra Islam dan Umat Islam. Berikut akan dipaparkan sekilas mengenai masalah ini.
Perbedaan Perhitungaan Astronomis Biasanya, pergantian tahun Hijriyah memang hampir selalu bersamaan dengan pergantian tahun baru Çaka Jawa. Bila bulan baru Hijriyah diawali oleh bulan Muharram, maka tahun Çaka-Jawa diawali oleh bulan Sura (baca: Suro). Hanya saja, awal tanggal setiap bulan kadang bersamaan, kadang berselisih satu hari. Perbedaan ini mudah saja dimaklumi. Tahun Hijriyah tergolong astronomical calendar (dihitung berdasarkan pengamatan astronomis) sedangkan tahun Jawa termasuk mathematical calendar (dihitung dengan hitungan aritmatis yang pasti). Sekalipun sama-sama berbasis pada perhitungan peredaran bulan, kadang terjadi beda penghitungan. Perbedaan cara penghitungan ini juga berimplikasi pada penentuan tanggal bulan baru masing-masing kalender. Penetapan bulan baru (hilal) pada kalender Hijriyah seringkali dipersengketakan karena perbedaan dalam penghitungan visibilitas hilal (keterlihatan bulan baru). Sementara penghitungan kalender Çaka-Jawa tidak bergantung pada visibilitas hilal yang sesungguhnya, tapi pada perhitungan yang mereka pastikan sebagai bulan baru. Oleh sebab itu, kalender Çaka-Jawa dapat dihitung secara konsisten seperti penghitungan kalender Masehi hingga jarang diperselisihkan.Kedua kalender tersebut jelas berbeda. Selain berbeda cara penghitungan, juga berasal dari tradisi yang berlainan. Yang satu berasal dari tradisi Arab sedangkan yang lain dari tradisi Jawa. Akan tetapi, sekali-kali perhatikan nama-nama hari, bulan, dan tahun pada kalender Çaka-Jawa. Nama-nama itu memperlihatkan pengaruh Arab-Islam yang sangat kuat. Nama hari pada kalender Çaka-Jawa (Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jemuah, dan Setu) sangat mirip dengan nama hari dalam kalender Hijriyah (Ahad, Itsnain, Tsulatsa', Arbi'a', Khamis, Jum'ah, dan Sabt). Nama-nama bulan yang digunakan (Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Hapit, Besar) pun diambil dari peristiwa-peristiwa penting dalam tradisi Islam. Sura diambil dari kata 'Asyura (10 Muharram), tanggal terbunuhnya Husein ibn Ali di Padang Karbala yang sangat penting dalam tradisi Islam (Syi'ah) dan tanggal yang oleh Nabi dianjurkan puasa padanya. Nama “Mulud” diambil dari kata “Maulid” (dilahirkan), maksudnya bulan dilahirkannya Nabi Muhammad Saw. Poso, nama Jawa untuk bulan Ramadhan, diambil dari aktivitas yang wajib dilaksanakan pada bulan itu, yaitu “puasa” (jawa: poso). Nama bulan-bulan yang lain pun demikian.Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi? Padahal, nama Çaka sendiri berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Çaka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Çaka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun. Siklus delapan tahunan yang disebut Windu juga berasal dari tradisi Hindu bukan Islam. Akan tetapi nama-nama tahunnya diadaptasi dari nama-nama huruf Arab yang tentu saja dibawa oleh orang-orang Islam. Lihat saja nama-nama berikut: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Itu adalah nama-nama tahun dalam siklus delapan tahunan kalender Çaka-Jawa. Sisi ini menarik untuk digali.Kalender Çaka yang digunakan orang-orang Jawa-Hindu dahulu pada mulanya dihitung berdasarkan pergerakan matahari (sistem matahari) seperti kalender Masehi. Nama-nama yang dipakai untuk manandai hari dan bulan pun masih sangat Hindu-sentris. Siklus tujuh harian mereka namai dengan nama-nama Hindu seperti: Adite (Ahad), Soma (Senin), Hanggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jum'at), Tumpak (Sabtu). Nama untuk siklus dua belas bulanan pun mereka namai dengan nama-nama Hindu antara lain (diurut mulai dari bulan pertama): Srawana, Badrapada, Aswina, Kartika, Margasira, Pusya, Mukha, Phalguna, Caitra, Waishaka, Jyestha, Asadha.Runtuhnya Majapahit di tangan penguasa Demak pada tahun 1478 M menandai runtuhnya benteng terakhir supremasi kekuasaan Hindu di Indonesia. Para sejarawan menyebut tahun itu sebagai permulaan "Zaman Baru" dalam sejarah Indonesia. Supremasi Islam mulai berkibar di seantero Nusantara. Seiring dengan itu, simbol-simbol kebudayaan Hindu sedikit demi sedikit diganti dengan simbol-simbol kebudayaan Islam. Proses perubahan itu biasanya tidak secara drastis. Simbol-simbol lama tetap dipakai, namun esensinya diislamkan. Contohnya pertunjukan wayang. Wayang tetap digunakan sebagai media, namun ceritanya diubah dan dimodifikasi agar sesuai dengan pesan-pesan Islam. Ajaran-ajaran Islam pun banyak yang dikemas dalam tembang-tembang khas Jawa. Begitulah cara yang dipakai oleh para pendakwah Islam waktu itu. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu yang paling sering menggunakan cara-cara seperti itu.Proses Islamisasi itu sampai juga pada sistem penanggalan. Sistem pananggalan Çaka-Hindu sudah sangat mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa, karena sudah mereka gunakan berabad-abad. Tentu saja, untuk menggantikannya secara drastis akan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Sunan Giri, semasa pemerintahan Demak (akhir abad ke-15 M), berhasil menemukan formula pengislaman kalender Çaka-Hindu. Caranya dengan mengubah nama hari dalam siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu dengan nama hari dalam kalender Hijriyah--tentu dengan penyesuaian aksen Jawa seperti itsnain menjedi senen. Selain siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu juga memiliki siklus lima harian dengan nama sendiri. Siklus lima harian ini dibiarkan tidak diubah, kemudian digabungkan dengan nama-nama hari dalam siklus tujuh harian yang telah diubah. Nama-nama hari dalam siklus lima harian ini adalah legi, paing, pon, wage, dan kliwon yang biasa disebut pancawara atau pasaran. Jadilah hari dalam kalender Jawa yang baru disebut bersama nama pasaran-nya seperti Jemuah Kliwon, Rebo Pahing, dan sebagainya.Puluhan tahun berikutnya setelah formula ini cukup tersosialisasikan, Sultan Ageng Hanyokrokusumo, penguasa Mataram berinisiatif untuk menggunakannya secara resmi. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Çaka baru atau Çaka-Jawa). Sistem penanggalan yang dipakai pun diubah dari sistem matahari menjadi sistem bulan mengikuti penanggalan Hijriyah. Seiring dengan perubahan sistem yang dipakai, nama-nama bulan pun diubah, namun tidak semuanya mengadaptasi nama bulan dalam kalender Hijriyah. Pengubahan nama disesuaikan dengan peristiwa keagamaan yang terjadi pada bulan bersangkutan. Selain hari dan bulan yang diubah, hitungan tahun Çaka tidak diubah mengikuti hitungan tahun Hijriyah. Hitungan tahun tetap menggunakan hitungan lama. Sejak saat itulah pergantian tahun Çaka selalu hampir bersamaan dengan pergantian tahun Hijriyah. Tapi tentu, keduanya tetap tidak sama. (Hidayatullah)*) Penulis adalah Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 19 Bentar Garut Ketua Divisi Kajian Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta
diambil dari swaramuslim
Artikel Oleh : Redaksi 01 Feb, 07 - 4:02 am Oleh: Tiar Anwar Bachtiar
20 Januari 2007 atau bertepatan dengan tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1428 banyak orang mengadakan peringatan. Sayangnya, banyak yang salah kaprahHari sabtu tanggal 20 Januari 2007 kemarin ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional menyambut tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1428. Hari itu juga bertepatan dengan tanggal 1 Suro 1940 Çaka (baca: Syaka). Di berbagai tempat banyak peringatan-peringatan dilakukan. Sebagian ada yang melakukan peringatan di mesjid-mesjid dengan mengadakan muhasabah dan pengajian, sementara di tempat-tempat tertentu seperti di Keraton Jogja, Surakarta, Banyuwangi, dan beberapa tempat lain di pesisir pantai utara diselenggarakan ritual-ritual yang selalu diselenggarakan sstiap tanggal 1 Suro.Masalahnya, banyak sekali media, terutama pemberitaan televisi yang menyamakan saja peringatan 1 Muharram yang berasal dari kalender Hijriyah dengan peringatan 1 Suro yang mengikuti perhitungan kalender tahun Çaka. Misalnya, kirab di Keraton Jogja dan Solo serta ritual Jamasan (mencuci benda-benda pusaka) dianggap sebagai rangkaian upacara dalam memperingati Tahun Baru Islam, Hijriyah. Padahal, upacara-upacara adat itu, secara asal-usul budaya, sama sekali bukan dalam memperingati tahun baru Islam, melainkan memperingatai tahunn baru Çaka yang memang selalu jatuh hampir bersamaan dengan kalender Hijriyah.Kesalahan persepsi itu berakibat cukup fatal. Aroma sinkretisme sengaja dibangun kembali seolah-olah Islam membolehkan praktik-praktik upacara semacam itu. Media membentuk opini bahwa upacara-upacara itu merupakan bagian dari tradisi Islam, padahal sama sekali berbeda. Dalam Islam jangankan melakukan upacara-upacara seperti Jamasan, mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau yang dilarung ke laut, atau kirab dengan rangkaian upacara tertentu, benar-banr memperingati tahun baru Hijriah dengan cara muhasabah dan menyelenggarakan pengajian-pengajian pun masih diperselisihkan.Sebagian ada yang membolehkan, tentu dengan catatan bahwa pelaksanaannya hanyalah sebagai aktivitas biasa seperti pengajian-penagjian biasa pada umumnya; hanya waktunya saja memilih tanggal 1 Muharram. Namun, sebagian ulama lain tegas-tegas menolak karena Rasulullah atau para sahabat tidak pernah mencontohkan. Bahkan, nama Hijriyah sendiri tidak pernah dikenal pada zaman Rasulullah karena baru diuat pada zaman Khlaifah Umar ibn Khaththab, apalagi diperingati. Jelas kalau ini dianggap ritual akan termasuk ke dalam kategori bid'ah; dan bila dibiasakan akan ada sangkaan dari masyarakat awam bahwa ini merupakan bagian dari ritual ibadah yang harus di laksanakan. Kalau itu terjadi, telah terjadi penyesatan pada umat. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadi hal semacam itu, lebih baik tidak dilakukan kegiatan apapun untuk menyambutnya. Ini diasaskan pada kaidah sadd al-dzara'ah (tindakan preventif).Untuk melihat bahwa antara Sura dan segala tradisinya dengan Muharram adalah sesuatu yang berbeda, kita mesti melihat sejarah penanggalan keduanya. Kalau ini tidak didudukkan, maka selalu akan terjadi penyamarataan yang akhirnya merugikan citra Islam dan Umat Islam. Berikut akan dipaparkan sekilas mengenai masalah ini.
Perbedaan Perhitungaan Astronomis Biasanya, pergantian tahun Hijriyah memang hampir selalu bersamaan dengan pergantian tahun baru Çaka Jawa. Bila bulan baru Hijriyah diawali oleh bulan Muharram, maka tahun Çaka-Jawa diawali oleh bulan Sura (baca: Suro). Hanya saja, awal tanggal setiap bulan kadang bersamaan, kadang berselisih satu hari. Perbedaan ini mudah saja dimaklumi. Tahun Hijriyah tergolong astronomical calendar (dihitung berdasarkan pengamatan astronomis) sedangkan tahun Jawa termasuk mathematical calendar (dihitung dengan hitungan aritmatis yang pasti). Sekalipun sama-sama berbasis pada perhitungan peredaran bulan, kadang terjadi beda penghitungan. Perbedaan cara penghitungan ini juga berimplikasi pada penentuan tanggal bulan baru masing-masing kalender. Penetapan bulan baru (hilal) pada kalender Hijriyah seringkali dipersengketakan karena perbedaan dalam penghitungan visibilitas hilal (keterlihatan bulan baru). Sementara penghitungan kalender Çaka-Jawa tidak bergantung pada visibilitas hilal yang sesungguhnya, tapi pada perhitungan yang mereka pastikan sebagai bulan baru. Oleh sebab itu, kalender Çaka-Jawa dapat dihitung secara konsisten seperti penghitungan kalender Masehi hingga jarang diperselisihkan.Kedua kalender tersebut jelas berbeda. Selain berbeda cara penghitungan, juga berasal dari tradisi yang berlainan. Yang satu berasal dari tradisi Arab sedangkan yang lain dari tradisi Jawa. Akan tetapi, sekali-kali perhatikan nama-nama hari, bulan, dan tahun pada kalender Çaka-Jawa. Nama-nama itu memperlihatkan pengaruh Arab-Islam yang sangat kuat. Nama hari pada kalender Çaka-Jawa (Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jemuah, dan Setu) sangat mirip dengan nama hari dalam kalender Hijriyah (Ahad, Itsnain, Tsulatsa', Arbi'a', Khamis, Jum'ah, dan Sabt). Nama-nama bulan yang digunakan (Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Hapit, Besar) pun diambil dari peristiwa-peristiwa penting dalam tradisi Islam. Sura diambil dari kata 'Asyura (10 Muharram), tanggal terbunuhnya Husein ibn Ali di Padang Karbala yang sangat penting dalam tradisi Islam (Syi'ah) dan tanggal yang oleh Nabi dianjurkan puasa padanya. Nama “Mulud” diambil dari kata “Maulid” (dilahirkan), maksudnya bulan dilahirkannya Nabi Muhammad Saw. Poso, nama Jawa untuk bulan Ramadhan, diambil dari aktivitas yang wajib dilaksanakan pada bulan itu, yaitu “puasa” (jawa: poso). Nama bulan-bulan yang lain pun demikian.Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi? Padahal, nama Çaka sendiri berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Çaka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Çaka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun. Siklus delapan tahunan yang disebut Windu juga berasal dari tradisi Hindu bukan Islam. Akan tetapi nama-nama tahunnya diadaptasi dari nama-nama huruf Arab yang tentu saja dibawa oleh orang-orang Islam. Lihat saja nama-nama berikut: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Itu adalah nama-nama tahun dalam siklus delapan tahunan kalender Çaka-Jawa. Sisi ini menarik untuk digali.Kalender Çaka yang digunakan orang-orang Jawa-Hindu dahulu pada mulanya dihitung berdasarkan pergerakan matahari (sistem matahari) seperti kalender Masehi. Nama-nama yang dipakai untuk manandai hari dan bulan pun masih sangat Hindu-sentris. Siklus tujuh harian mereka namai dengan nama-nama Hindu seperti: Adite (Ahad), Soma (Senin), Hanggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jum'at), Tumpak (Sabtu). Nama untuk siklus dua belas bulanan pun mereka namai dengan nama-nama Hindu antara lain (diurut mulai dari bulan pertama): Srawana, Badrapada, Aswina, Kartika, Margasira, Pusya, Mukha, Phalguna, Caitra, Waishaka, Jyestha, Asadha.Runtuhnya Majapahit di tangan penguasa Demak pada tahun 1478 M menandai runtuhnya benteng terakhir supremasi kekuasaan Hindu di Indonesia. Para sejarawan menyebut tahun itu sebagai permulaan "Zaman Baru" dalam sejarah Indonesia. Supremasi Islam mulai berkibar di seantero Nusantara. Seiring dengan itu, simbol-simbol kebudayaan Hindu sedikit demi sedikit diganti dengan simbol-simbol kebudayaan Islam. Proses perubahan itu biasanya tidak secara drastis. Simbol-simbol lama tetap dipakai, namun esensinya diislamkan. Contohnya pertunjukan wayang. Wayang tetap digunakan sebagai media, namun ceritanya diubah dan dimodifikasi agar sesuai dengan pesan-pesan Islam. Ajaran-ajaran Islam pun banyak yang dikemas dalam tembang-tembang khas Jawa. Begitulah cara yang dipakai oleh para pendakwah Islam waktu itu. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu yang paling sering menggunakan cara-cara seperti itu.Proses Islamisasi itu sampai juga pada sistem penanggalan. Sistem pananggalan Çaka-Hindu sudah sangat mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa, karena sudah mereka gunakan berabad-abad. Tentu saja, untuk menggantikannya secara drastis akan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Sunan Giri, semasa pemerintahan Demak (akhir abad ke-15 M), berhasil menemukan formula pengislaman kalender Çaka-Hindu. Caranya dengan mengubah nama hari dalam siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu dengan nama hari dalam kalender Hijriyah--tentu dengan penyesuaian aksen Jawa seperti itsnain menjedi senen. Selain siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu juga memiliki siklus lima harian dengan nama sendiri. Siklus lima harian ini dibiarkan tidak diubah, kemudian digabungkan dengan nama-nama hari dalam siklus tujuh harian yang telah diubah. Nama-nama hari dalam siklus lima harian ini adalah legi, paing, pon, wage, dan kliwon yang biasa disebut pancawara atau pasaran. Jadilah hari dalam kalender Jawa yang baru disebut bersama nama pasaran-nya seperti Jemuah Kliwon, Rebo Pahing, dan sebagainya.Puluhan tahun berikutnya setelah formula ini cukup tersosialisasikan, Sultan Ageng Hanyokrokusumo, penguasa Mataram berinisiatif untuk menggunakannya secara resmi. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Çaka baru atau Çaka-Jawa). Sistem penanggalan yang dipakai pun diubah dari sistem matahari menjadi sistem bulan mengikuti penanggalan Hijriyah. Seiring dengan perubahan sistem yang dipakai, nama-nama bulan pun diubah, namun tidak semuanya mengadaptasi nama bulan dalam kalender Hijriyah. Pengubahan nama disesuaikan dengan peristiwa keagamaan yang terjadi pada bulan bersangkutan. Selain hari dan bulan yang diubah, hitungan tahun Çaka tidak diubah mengikuti hitungan tahun Hijriyah. Hitungan tahun tetap menggunakan hitungan lama. Sejak saat itulah pergantian tahun Çaka selalu hampir bersamaan dengan pergantian tahun Hijriyah. Tapi tentu, keduanya tetap tidak sama. (Hidayatullah)*) Penulis adalah Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 19 Bentar Garut Ketua Divisi Kajian Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta
diambil dari swaramuslim
Minggu, 17 Mei 2009
Awas, Dukun dan Tukang Ramal Penciduk Agama dan Harta!
Artikel Oleh : Redaksi 22 Sep, 05 - 12:17 am
Kejahilan terhadap syariat terkadang menjadikan seseorang bersifat gegabah, serampangan, dan tergesa-gesa dalam berbuat. Ia dengan mudah melakukan sesuatu padahal akan memudharatkan dirinya. Betapa sering, karena kejahilan, seseorang terjatuh ke dalam perbuatan kufur dan kesyirikan, bid’ah, pengingkaran terhadap sesuatu yang sudah jelas ada nashnya dalam syariat dan terjatuh dalam berbagai bentuk kemaksiatan. Kita saksikan sekeliling kita. Ada orang yang hanya bermodal bisa memimpin dzikir dan membaca doa, ia posisikan dirinya sebagai orang yang terpandang walaupun buta terhadap ilmu agama. Ada pula orang yang gemar berceloteh di panggung-panggung dan di mimbar-mimbar, merasa dirinya seakan da’i yang tidak tertandingi, padahal dia tidak memiliki ilmu agama kecuali hanya sedikit saja. Allah k telah banyak menjelaskan di dalam ayat-Nya tentang bahaya kejahilan, di antaranya:1. Allah k menceritakan tentang kaum Nabi Musa :"Mereka (Bani Israil) mengatakan: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 136)Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan: “Allah mensifati Bani Israil dengan kejahilan karena mereka mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah, yang mestinya hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk meminta (sesuatu yang hanya mampu dilakukan Allah) kepada selain Allah. Akan tetapi mereka terkenal sangat keras penentangannya, tinggi kejahilannya dan orang-orang yang tidak memiliki pendirian.” (Fathul Qadir, hal. 586)2. Allah berfirman:“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu kalian bukan (mendatangi) wanita, sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatan kalian).” (An-Naml: 55)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Bagaimana kalian sampai melakukan demikian terhadap syahwat kalian. Kalian melampiaskannya kepada kaum pria melalui dubur mereka, padahal itu tempat keluar kotoran. Dan kalian meninggalkan apa yang Allah ciptakan buat kalian dari wanita-wanita, yaitu tempat-tempat yang baik di mana setiap manusia telah difitrahi untuk condong kepadanya. Demikianlah bila urusan telah terbalik, kalian menganggap yang jelek itu baik dan yang baik itu jelek, akan tetapi kalian tidak mengetahui artinya. Kalian melanggar batasan-batasan Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 556)3. Allah k berfirman:“Yusuf berkata: ‘Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang kalian telah lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui akibat perbuatan kalian itu.” (Yusuf: 89)Ayat ini menjelaskan satu bentuk alasan yang mengakibatkan saudara-saudara Nabi Yusuf terjatuh dalam perbuatan yang tidak sepantasnya terjadi, atau ayat ini merupakan sebuah cercaan terhadap saudara-saudara Nabi Yusuf karena mereka melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil.4. Allah k berfirman:“Katakanlah: Apakah kalian menyuruh aku untuk menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Az-Zumar: 64)Di dalam ayat ini Allah k memerintahkan kepada Rasulullah n untuk mengatakan kepada oang-orang jahil (tentang perkataan mereka yang sesat, red.). Perintah orang-orang kafir kepada Rasulullah n untuk menyembah selain Allah k itu didasari oleh kejahilan. Jika mereka berilmu tentang Allah k yang Maha Sempurna dari semua sisi, niscaya mereka tidak akan memerintahkan Rasulullah n melakukan hal itu.Masih banyak lagi ayat semakna yang menjelaskan bahwa kejahilan merupakan sumber malapetaka.Al-Imam Ibnul Qayyim t mengatakan: “Rukun kekufuran ada empat yaitu sombong, hasad, marah, dan syahwat. Sifat sombong akan mencegah seseorang untuk tunduk, hasad menghalangi untuk menerima nasihat, marah akan menghalangi untuk berbuat adil, dan syahwat akan menghalangi untuk konsentrasi dalam beribadah. Apabila hancur pondasi kesombongan akan mudah baginya untuk tunduk; apabila pondasi hasad runtuh maka akan mudah baginya menerima nasihat dan melaksanakannya. Bila pondasi marah runtuh maka akan mudah baginya untuk berbuat adil dan tawadhu’; dan bila pondasi syahwat itu hancur maka akan mudah baginya untuk bersabar, menahan diri dari maksiat serta istiqamah dalam beribadah. Memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih ringan, gampang dan mudah dibanding menghilangkan keempat perkara ini bagi orang yang telah terkena. Terlebih bila semua telah menjadi perilaku dan tabiat yang mendarah daging. Bersamaan dengan itu, tidak akan lurus amalan apapun yang dibangun di atasnya dan amalan-amalan tersebut tidak akan dapat membersihkan dirinya. Setiap kali dia membangun sebuah amalan, maka akan diruntuhkan oleh keempat perkara tersebut, dan segala macam penyakit bermuara darinya. Bila keempat perkara tersebut menancap di dalam hati maka akan menampilkan kebatilan sebagai kebenaran, kebenaran sebagai kebatilan, ma’ruf dalam bentuk mungkar dan mungkar dalam bentuk ma’ruf, dan dunia akan mendekatinya sedangkan akhirat akan menjauh darinya. Bila kamu meneliti kekufuran umat terdahulu (kamu akan menjumpai, pen.) semuanya bermuara dari keempat perkara tersebut. Dan besar kecilnya sebuah adzab tergantung dari besar dan kecilnya keempat sifat tersebut. Barangsiapa membiarkan keempat rukun kekufuran tersebut pada dirinya, maka dia telah membuka pintu kejahatan pada dirinya. Dan barangsiapa menutupnya maka akan tertutup pintu-pintu kejahatan pada dirinya. Keempat perkara di atas akan menyebabkan seseorang terhalang untuk tunduk, ikhlas, bertaubat, menerima kebenaran, menerima nasihat dari saudaranya, dan tawadhu’ di hadapan Allah k dan di hadapan makhluk. Keempat sifat tersebut disebabkan kejahilan tentang Rabbnya dan kejahilan tentang dirinya. Jika dia mengetahui Allah k dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna dan Agung, serta dia mengetahui tentang dirinya yang penuh kelemahan dan serba kekurangan, niscaya dia tidak akan menyombongkan diri, tidak akan marah, dan tidak akan iri hati kepada siapapun yang telah mendapatkan anugerah dari Allah k.” (Al-Fawaid, hal. 174-175)Al-Imam Mujahid t dan selain beliau mengatakan: “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah k baik sengaja atau tidak, dia adalah orang jahil sampai dia bertaubat.”Al-Imam Qatadah t meriwayatkan dari Abu ‘Aliyah, ia mengatakan tentang para shahabat Rasulullah n bahwa mereka berkata: “Setiap dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, asasnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir)Abdur Razzaq t berkata: Ma’mar telah menyampaikan kepada kami dari Qatadah bahwa ia berkata: “ Para shahabat telah ijma’ (bersepakat) bahwa segala kemaksiatan dasarnya adalah kejahilan, baik disengaja ataupun tidak.”Ibnu Juraij t berkata: Abdullah bin Katsir menyampaikan kepadaku dari Mujahid bahwa ia berkata: “Setiap pelaku kemaksiatan kepada Allah k adalah dalam keadaan jahil ketika melakukannya.”Ibnu Juraij t juga berkata: ‘Atha bin Abi Rabbah telah menyampaikan kepadaku ucapan yang sejenis.Abu Shalih t berkata (riwayat) dari Ibnu ‘Abbas c: “Kejahilan seseorang akan menyebabkan dia melakukan kejahatan.” (Ibnu Katsir t dalam Tafsir-nya, 1/572)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata di dalam Tafsir beliau bahwa kejahilan yang dimaksud adalah: “Kejahilan tentang akibat perbuatan itu, kejahilan tentang sebuah amalan yang akan mengundang murka Allah dan adzab-Nya, kejahilan dirinya tentang pantauan Allah dan penglihatan-Nya, kejahilan tentang amalan yang akan merugikan iman atau menghilangkannya. Berdasarkan tinjauan ini, maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah k, dia adalah orang jahil walaupun dia berilmu tentang keharaman.”
Berhati-hati dari Orang JahilAllah k dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita agar berhati-hati dari orang jahil dan sepak terjangnya, karena bahaya berteman dengan mereka sangat besar. Dia akan menjerumuskan dirimu ke lubang kemaksiatan walaupun kamu mengetahui hukumnya. Orang jahil lebih dekat kepada Iblis dan tentara-tentaranya daripada kepada Allah k dan tentara-tentara-Nya, dan mereka sendiri adalah tentara Iblis. Bila kamu mendekati mereka, pasukan Iblis akan bergerak untuk menciduk dirimu, agama dan hartamu. Dalam kehidupan kaum muslimin sekarang ini sangat terlihat berbagai praktek kehidupan yang didasari oleh kejahilan. Bahkan mayoritas praktek kehidupan yang merupakan perilaku jahiliyah menjadi kebanggaan. Prinsip mereka adalah apa yang di jelaskan oleh Allah k di dalam firman-Nya:“Mereka berkata: ‘(tidak) kami hanya mengikuti apa yang kami telah dapati dari perbuatan nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 170)Pertanyaan ini telah dijawab oleh kenyataan yang ada bahwa walaupun nenek moyang mereka dalam keadaan tidak mengetahui, tidak mendapatkan petunjuk dan berada dalam kesesatan, toh nenek moyang itu tetap diikuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Demikianlah bahaya kebodohan, yaitu akan membutakan sehingga tidak bisa melihat cahaya Allah k yang telah menerangi alam ini, malamnya bagaikan siang.Prinsip “mati urip” membela ajaran nenek moyang dijadikan sebagai senjata untuk menolak kebenaran, berpaling darinya dan membencinya. Dengan prinsip di atas mereka berani membela kebatilan dan melindungi pelakunya.1. Allah k telah memperingatkan di dalam firman-Nya:“Maka janganlah kalian termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)Ayat ini menjelaskan agar kita jangan sampai menjadi orang jahil yang tidak mengetahui hakikat permasalahan dan meletakkan permasalahan tidak pada tempatnya.2. Allah k membimbing agar Nabi Musa p berlindung dari sifat kejahilan:“Musa berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang orang yang bodoh.’” (Al-Baqarah: 67)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Karena sesungguhnya orang jahil itu adalah orang yang berbicara dengan sebuah ucapan yang tidak berfaidah dan orang-orang yang suka menghina orang lain.” (Tafsir As-Sa’di hal. 37)Beliau juga mensifati orang-orang jahil dan tolol dengan: “Kejahilan tentang maslahat dirinya dan dia melakukan segala apa yang memudharatkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 26)3. Allah k menceritakan tentang Nabi Ibrahim p agar menyingkir dan meninggalkan orang-orang jahiliyah dalam firman-Nya:“Dan aku akan menyingkir dari kalian dan apa-apa yang kalian sembah selain Allah dan aku hanya berdoa kepada Rabbku semoga aku dengan itu tidak termasuk orang-orang yang celaka.” (Maryam: 48)4. Allah k bercerita tentang sikap Nabi Musa p terhadap kaumnya dalam firman-Nya:“Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian dari keinginan kalian merajamku, dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku menyingkir dari kalian (memimpin bani Israil).” (Ad-Dukhan: 20-21)5. Allah k bercerita tentang Ashabul Kahfi dalam firman-Nya:“Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna buat kalian dalam urusan kalian.” (Al-Kahfi: 16)6. Rasulullah n telah memperingatkan di dalam sabdanya:“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari setiap hamba namun Allah mencabutnya dengan mematikan orang-orang alim. Sehingga di saat Allah tidak menyisakan seorangpun dari mereka, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka. Mereka ditanya merekapun berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)7. Al-Imam Malik t mengatakan: “Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang (1) Orang yang memproklamirkan kejahilannya (2) Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu (3) Orang yang terkenal pendusta dalam ucapannya walaupun dia tidak berdusta atas nama Rasulullah n (4) Orang memiliki keutamaan dan kebaikan namun dia tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi, 2/48)Dalil-dalil di atas menjelaskan kepada kita sikap yang selamat dan menyelamatkan yaitu menyingkir dari orang-orang jahil yang tidak mau menerima kebenaran. Dan termasuk dari sederetan orang-orang jahil adalah para dukun dan tukang ramal.
Dukun adalah Orang JahilDukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetaui) perkara-perkara ghaib yang belum terjadi dan perkara yang ada di dalam hati seseorang.Ibnul Atsir t mengatakan: “Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang perkara-perkara yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits, 4/214)Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan: “Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/393-394)Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang perkara ghaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan menyangka bahwa yang memberitahukan perkara tadi adalah seorang wali Allah k padahal dia adalah wali setan.
Hukum PerdukunanDari penjelasan di atas maka tidak ada keraguan lagi tentang hukum perdukunan itu adalah haram. Ibnu Abil ‘Izzi t mengatakan: “Bukan satu orang dari ulama telah menukilkan ijma’ tentang keharamannya (keharaman dukun) seperti Al-Imam Al-Baghawi, Al-Qadhi ‘Iyadh, dan selain mereka.” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 341)Perdukunan adalah sebuah kesyirikan kepada Allah k dan pelakunya adalah kafir, keluar dari agama, karena mereka meyakini tahu perkara-perkara ghaib, sedangkan permasalahan ghaib merupakan kekhususan ilmu Allah k. Tindakan menyekutukan Allah k dalam salah satu sifat-Nya termasuk dari kesyirikan, disamping juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah k yang berbunyi:“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)Rasulullah n bersabda:“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”Hadits ini di keluarkan oleh Al-Hakim (1/8) dan beliau menshahihkannya, disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dan dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam Al-Irwa` no. 2006, Shahih Sunan Abu Dawud no. 3304, Shahih Sunan Ibni Majah no. 522, Al-Misykat no. 551 dan di dalam kitab Adab Az-Zafaf hal. 105-106. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 3904, Ahmad (2/408, 429, 476), Ibnu Majah no. 639, Al-Baihaqi (7/198), Ibnu Jarud no. 107, Ad-Darimi no. 1141 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (15/429).Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi t mengatakan: “Kalau demikian keadaan orang yang mendatanginya lalu bagaimana tentang orang yang ditanya/didatangi (yaitu dukun)?” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 341)(Asy Syariah)
diambil dari swaramuslim
Artikel Oleh : Redaksi 22 Sep, 05 - 12:17 am
Kejahilan terhadap syariat terkadang menjadikan seseorang bersifat gegabah, serampangan, dan tergesa-gesa dalam berbuat. Ia dengan mudah melakukan sesuatu padahal akan memudharatkan dirinya. Betapa sering, karena kejahilan, seseorang terjatuh ke dalam perbuatan kufur dan kesyirikan, bid’ah, pengingkaran terhadap sesuatu yang sudah jelas ada nashnya dalam syariat dan terjatuh dalam berbagai bentuk kemaksiatan. Kita saksikan sekeliling kita. Ada orang yang hanya bermodal bisa memimpin dzikir dan membaca doa, ia posisikan dirinya sebagai orang yang terpandang walaupun buta terhadap ilmu agama. Ada pula orang yang gemar berceloteh di panggung-panggung dan di mimbar-mimbar, merasa dirinya seakan da’i yang tidak tertandingi, padahal dia tidak memiliki ilmu agama kecuali hanya sedikit saja. Allah k telah banyak menjelaskan di dalam ayat-Nya tentang bahaya kejahilan, di antaranya:1. Allah k menceritakan tentang kaum Nabi Musa :"Mereka (Bani Israil) mengatakan: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 136)Al-Imam Asy-Syaukani t mengatakan: “Allah mensifati Bani Israil dengan kejahilan karena mereka mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah, yang mestinya hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk meminta (sesuatu yang hanya mampu dilakukan Allah) kepada selain Allah. Akan tetapi mereka terkenal sangat keras penentangannya, tinggi kejahilannya dan orang-orang yang tidak memiliki pendirian.” (Fathul Qadir, hal. 586)2. Allah berfirman:“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu kalian bukan (mendatangi) wanita, sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatan kalian).” (An-Naml: 55)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Bagaimana kalian sampai melakukan demikian terhadap syahwat kalian. Kalian melampiaskannya kepada kaum pria melalui dubur mereka, padahal itu tempat keluar kotoran. Dan kalian meninggalkan apa yang Allah ciptakan buat kalian dari wanita-wanita, yaitu tempat-tempat yang baik di mana setiap manusia telah difitrahi untuk condong kepadanya. Demikianlah bila urusan telah terbalik, kalian menganggap yang jelek itu baik dan yang baik itu jelek, akan tetapi kalian tidak mengetahui artinya. Kalian melanggar batasan-batasan Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 556)3. Allah k berfirman:“Yusuf berkata: ‘Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang kalian telah lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui akibat perbuatan kalian itu.” (Yusuf: 89)Ayat ini menjelaskan satu bentuk alasan yang mengakibatkan saudara-saudara Nabi Yusuf terjatuh dalam perbuatan yang tidak sepantasnya terjadi, atau ayat ini merupakan sebuah cercaan terhadap saudara-saudara Nabi Yusuf karena mereka melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil.4. Allah k berfirman:“Katakanlah: Apakah kalian menyuruh aku untuk menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Az-Zumar: 64)Di dalam ayat ini Allah k memerintahkan kepada Rasulullah n untuk mengatakan kepada oang-orang jahil (tentang perkataan mereka yang sesat, red.). Perintah orang-orang kafir kepada Rasulullah n untuk menyembah selain Allah k itu didasari oleh kejahilan. Jika mereka berilmu tentang Allah k yang Maha Sempurna dari semua sisi, niscaya mereka tidak akan memerintahkan Rasulullah n melakukan hal itu.Masih banyak lagi ayat semakna yang menjelaskan bahwa kejahilan merupakan sumber malapetaka.Al-Imam Ibnul Qayyim t mengatakan: “Rukun kekufuran ada empat yaitu sombong, hasad, marah, dan syahwat. Sifat sombong akan mencegah seseorang untuk tunduk, hasad menghalangi untuk menerima nasihat, marah akan menghalangi untuk berbuat adil, dan syahwat akan menghalangi untuk konsentrasi dalam beribadah. Apabila hancur pondasi kesombongan akan mudah baginya untuk tunduk; apabila pondasi hasad runtuh maka akan mudah baginya menerima nasihat dan melaksanakannya. Bila pondasi marah runtuh maka akan mudah baginya untuk berbuat adil dan tawadhu’; dan bila pondasi syahwat itu hancur maka akan mudah baginya untuk bersabar, menahan diri dari maksiat serta istiqamah dalam beribadah. Memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih ringan, gampang dan mudah dibanding menghilangkan keempat perkara ini bagi orang yang telah terkena. Terlebih bila semua telah menjadi perilaku dan tabiat yang mendarah daging. Bersamaan dengan itu, tidak akan lurus amalan apapun yang dibangun di atasnya dan amalan-amalan tersebut tidak akan dapat membersihkan dirinya. Setiap kali dia membangun sebuah amalan, maka akan diruntuhkan oleh keempat perkara tersebut, dan segala macam penyakit bermuara darinya. Bila keempat perkara tersebut menancap di dalam hati maka akan menampilkan kebatilan sebagai kebenaran, kebenaran sebagai kebatilan, ma’ruf dalam bentuk mungkar dan mungkar dalam bentuk ma’ruf, dan dunia akan mendekatinya sedangkan akhirat akan menjauh darinya. Bila kamu meneliti kekufuran umat terdahulu (kamu akan menjumpai, pen.) semuanya bermuara dari keempat perkara tersebut. Dan besar kecilnya sebuah adzab tergantung dari besar dan kecilnya keempat sifat tersebut. Barangsiapa membiarkan keempat rukun kekufuran tersebut pada dirinya, maka dia telah membuka pintu kejahatan pada dirinya. Dan barangsiapa menutupnya maka akan tertutup pintu-pintu kejahatan pada dirinya. Keempat perkara di atas akan menyebabkan seseorang terhalang untuk tunduk, ikhlas, bertaubat, menerima kebenaran, menerima nasihat dari saudaranya, dan tawadhu’ di hadapan Allah k dan di hadapan makhluk. Keempat sifat tersebut disebabkan kejahilan tentang Rabbnya dan kejahilan tentang dirinya. Jika dia mengetahui Allah k dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna dan Agung, serta dia mengetahui tentang dirinya yang penuh kelemahan dan serba kekurangan, niscaya dia tidak akan menyombongkan diri, tidak akan marah, dan tidak akan iri hati kepada siapapun yang telah mendapatkan anugerah dari Allah k.” (Al-Fawaid, hal. 174-175)Al-Imam Mujahid t dan selain beliau mengatakan: “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah k baik sengaja atau tidak, dia adalah orang jahil sampai dia bertaubat.”Al-Imam Qatadah t meriwayatkan dari Abu ‘Aliyah, ia mengatakan tentang para shahabat Rasulullah n bahwa mereka berkata: “Setiap dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, asasnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir)Abdur Razzaq t berkata: Ma’mar telah menyampaikan kepada kami dari Qatadah bahwa ia berkata: “ Para shahabat telah ijma’ (bersepakat) bahwa segala kemaksiatan dasarnya adalah kejahilan, baik disengaja ataupun tidak.”Ibnu Juraij t berkata: Abdullah bin Katsir menyampaikan kepadaku dari Mujahid bahwa ia berkata: “Setiap pelaku kemaksiatan kepada Allah k adalah dalam keadaan jahil ketika melakukannya.”Ibnu Juraij t juga berkata: ‘Atha bin Abi Rabbah telah menyampaikan kepadaku ucapan yang sejenis.Abu Shalih t berkata (riwayat) dari Ibnu ‘Abbas c: “Kejahilan seseorang akan menyebabkan dia melakukan kejahatan.” (Ibnu Katsir t dalam Tafsir-nya, 1/572)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata di dalam Tafsir beliau bahwa kejahilan yang dimaksud adalah: “Kejahilan tentang akibat perbuatan itu, kejahilan tentang sebuah amalan yang akan mengundang murka Allah dan adzab-Nya, kejahilan dirinya tentang pantauan Allah dan penglihatan-Nya, kejahilan tentang amalan yang akan merugikan iman atau menghilangkannya. Berdasarkan tinjauan ini, maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah k, dia adalah orang jahil walaupun dia berilmu tentang keharaman.”
Berhati-hati dari Orang JahilAllah k dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita agar berhati-hati dari orang jahil dan sepak terjangnya, karena bahaya berteman dengan mereka sangat besar. Dia akan menjerumuskan dirimu ke lubang kemaksiatan walaupun kamu mengetahui hukumnya. Orang jahil lebih dekat kepada Iblis dan tentara-tentaranya daripada kepada Allah k dan tentara-tentara-Nya, dan mereka sendiri adalah tentara Iblis. Bila kamu mendekati mereka, pasukan Iblis akan bergerak untuk menciduk dirimu, agama dan hartamu. Dalam kehidupan kaum muslimin sekarang ini sangat terlihat berbagai praktek kehidupan yang didasari oleh kejahilan. Bahkan mayoritas praktek kehidupan yang merupakan perilaku jahiliyah menjadi kebanggaan. Prinsip mereka adalah apa yang di jelaskan oleh Allah k di dalam firman-Nya:“Mereka berkata: ‘(tidak) kami hanya mengikuti apa yang kami telah dapati dari perbuatan nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 170)Pertanyaan ini telah dijawab oleh kenyataan yang ada bahwa walaupun nenek moyang mereka dalam keadaan tidak mengetahui, tidak mendapatkan petunjuk dan berada dalam kesesatan, toh nenek moyang itu tetap diikuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Demikianlah bahaya kebodohan, yaitu akan membutakan sehingga tidak bisa melihat cahaya Allah k yang telah menerangi alam ini, malamnya bagaikan siang.Prinsip “mati urip” membela ajaran nenek moyang dijadikan sebagai senjata untuk menolak kebenaran, berpaling darinya dan membencinya. Dengan prinsip di atas mereka berani membela kebatilan dan melindungi pelakunya.1. Allah k telah memperingatkan di dalam firman-Nya:“Maka janganlah kalian termasuk orang-orang yang jahil.” (Al-An’am: 35)Ayat ini menjelaskan agar kita jangan sampai menjadi orang jahil yang tidak mengetahui hakikat permasalahan dan meletakkan permasalahan tidak pada tempatnya.2. Allah k membimbing agar Nabi Musa p berlindung dari sifat kejahilan:“Musa berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang orang yang bodoh.’” (Al-Baqarah: 67)Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Karena sesungguhnya orang jahil itu adalah orang yang berbicara dengan sebuah ucapan yang tidak berfaidah dan orang-orang yang suka menghina orang lain.” (Tafsir As-Sa’di hal. 37)Beliau juga mensifati orang-orang jahil dan tolol dengan: “Kejahilan tentang maslahat dirinya dan dia melakukan segala apa yang memudharatkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 26)3. Allah k menceritakan tentang Nabi Ibrahim p agar menyingkir dan meninggalkan orang-orang jahiliyah dalam firman-Nya:“Dan aku akan menyingkir dari kalian dan apa-apa yang kalian sembah selain Allah dan aku hanya berdoa kepada Rabbku semoga aku dengan itu tidak termasuk orang-orang yang celaka.” (Maryam: 48)4. Allah k bercerita tentang sikap Nabi Musa p terhadap kaumnya dalam firman-Nya:“Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian dari keinginan kalian merajamku, dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku menyingkir dari kalian (memimpin bani Israil).” (Ad-Dukhan: 20-21)5. Allah k bercerita tentang Ashabul Kahfi dalam firman-Nya:“Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna buat kalian dalam urusan kalian.” (Al-Kahfi: 16)6. Rasulullah n telah memperingatkan di dalam sabdanya:“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari setiap hamba namun Allah mencabutnya dengan mematikan orang-orang alim. Sehingga di saat Allah tidak menyisakan seorangpun dari mereka, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka. Mereka ditanya merekapun berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)7. Al-Imam Malik t mengatakan: “Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang (1) Orang yang memproklamirkan kejahilannya (2) Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu (3) Orang yang terkenal pendusta dalam ucapannya walaupun dia tidak berdusta atas nama Rasulullah n (4) Orang memiliki keutamaan dan kebaikan namun dia tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi, 2/48)Dalil-dalil di atas menjelaskan kepada kita sikap yang selamat dan menyelamatkan yaitu menyingkir dari orang-orang jahil yang tidak mau menerima kebenaran. Dan termasuk dari sederetan orang-orang jahil adalah para dukun dan tukang ramal.
Dukun adalah Orang JahilDukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetaui) perkara-perkara ghaib yang belum terjadi dan perkara yang ada di dalam hati seseorang.Ibnul Atsir t mengatakan: “Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang perkara-perkara yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits, 4/214)Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan: “Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/393-394)Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang perkara ghaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan menyangka bahwa yang memberitahukan perkara tadi adalah seorang wali Allah k padahal dia adalah wali setan.
Hukum PerdukunanDari penjelasan di atas maka tidak ada keraguan lagi tentang hukum perdukunan itu adalah haram. Ibnu Abil ‘Izzi t mengatakan: “Bukan satu orang dari ulama telah menukilkan ijma’ tentang keharamannya (keharaman dukun) seperti Al-Imam Al-Baghawi, Al-Qadhi ‘Iyadh, dan selain mereka.” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 341)Perdukunan adalah sebuah kesyirikan kepada Allah k dan pelakunya adalah kafir, keluar dari agama, karena mereka meyakini tahu perkara-perkara ghaib, sedangkan permasalahan ghaib merupakan kekhususan ilmu Allah k. Tindakan menyekutukan Allah k dalam salah satu sifat-Nya termasuk dari kesyirikan, disamping juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah k yang berbunyi:“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)Rasulullah n bersabda:“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”Hadits ini di keluarkan oleh Al-Hakim (1/8) dan beliau menshahihkannya, disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dan dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di dalam Al-Irwa` no. 2006, Shahih Sunan Abu Dawud no. 3304, Shahih Sunan Ibni Majah no. 522, Al-Misykat no. 551 dan di dalam kitab Adab Az-Zafaf hal. 105-106. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 3904, Ahmad (2/408, 429, 476), Ibnu Majah no. 639, Al-Baihaqi (7/198), Ibnu Jarud no. 107, Ad-Darimi no. 1141 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (15/429).Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi t mengatakan: “Kalau demikian keadaan orang yang mendatanginya lalu bagaimana tentang orang yang ditanya/didatangi (yaitu dukun)?” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 341)(Asy Syariah)
diambil dari swaramuslim
Assalam mu'alaikum
Hai . . . . . .
blog ini berisi artikel-artikel tentang islam yang telah saya baca dari blog atau website, bertujuan untuk memudahkan saya sendiri khususnya ketika ingin membaca kembali artikel tersebut.
tanpa harus membuka banyak blog dan situs diinternet, maklum loading disini lambat hee...hee...he...
bagi yang ingin membaca dan tinggalkan komentar dipersilahkan, semoga dapat menambah wawasan kita tentang islam dan menambah keimanan.
Wassalam mu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Hai . . . . . .
blog ini berisi artikel-artikel tentang islam yang telah saya baca dari blog atau website, bertujuan untuk memudahkan saya sendiri khususnya ketika ingin membaca kembali artikel tersebut.
tanpa harus membuka banyak blog dan situs diinternet, maklum loading disini lambat hee...hee...he...
bagi yang ingin membaca dan tinggalkan komentar dipersilahkan, semoga dapat menambah wawasan kita tentang islam dan menambah keimanan.
Wassalam mu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Langganan:
Komentar (Atom)